YA'AHOWU !! SYALLOM.. Kata Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) FAOMASI ZOAYA

LABEL

Pencarian

MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Senin, 26 November 2012

Marah, Berdosakah?

Oleh : Ev. Esra Alfred Soru

Kemarahan bukanlah merupakan sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Semua orang di dalam dunia ini pernah mengalami dan berkenalan dengan apa yang disebut sebagai kemarahan entah memarahi atau dimarahi baik dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama maupun diri sendiri. Kalau sekiranya dapat dikatakan, kemarahan itu adalah hal yang sejajar dengan senyuman, tangisan, tawa dan hal lainnya yang merupakan hal yang vital dalam kehidupan ini.

 Namun persoalan yang harus dipikirkan dengan serius adalah ketika kemarahan itu diletakkan, ditinjau dan diinterpretasikan dari kaca mata etika Kristen. Ada begitu banyak orang Kristen yang berpandangan bahwa kemarahan itu adalah sebuah dosa (walaupun bukan sebuah dosa besar) dan juga lebih memandang positif orang yang kelihatannya tidak pernah marah (jarang marah) atau pandai menyembunyikan amarahnya daripada orang yang kelihatan atau diketahui amarahnya. Mungkin pendapat-pendapat semacam ini didasarkan pada beberapa ayat Alkitab yang memberi kesan agak negatif tentang kemarahan seperti Mazmur 37:8 : “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, janganlah marah, itu hanya membawa kepada kejahatan“. Kolose 3:8 : “tetapi sekarang, buanglah semuanya ini yaitu amarah…” dan ayat-ayat lainnya.

 Dengan demikian pertanyaan yang perlu dibahas sekarang adalah “apakah kemarahan itu sebuah dosa?” Mungkinkah ayat-ayat seperti Mazmur 37:8 dan Kolose 3:8 membicarakan dan melihat kemarahan sebagai suatu dosa yang harus dibuang dan dihindari? Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa Allah juga marah? Bahkan kemarahan Allah itu selalu diikuti dengan penghukuman. Begitu besarnya amarah-Nya sehingga lebih tepat dikatakan sebagai “murka”. Mazmur 102:11 : “Oleh karena marah-Mu dan geram-Mu sebab engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku“. 2 Samuel 6:7 : “Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Uza, maka Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu. Ia mati di sana dekat tabut Allah itu“. Alkitab juga menceritakan bahwa Yesus pernah marah. Markus 3:5 : “Ia berdukacita karena kedegilan mereka, dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya…”. Markus 10:14 : “Ketika Yesus melihat hal itu Ia marah dan berkata kepada mereka…” dan mungkin kemarahan Yesus yang paling besar adalah ketika Ia mengobrak-abrik Bait Allah yang menurut-Nya telah dijadikan sebagai sarang penyamun (Yoh 2:13-25) bahkan ayat 15 berkata : “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar uang dihamburkan-Nya ke tanah, dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya“. Luar biasa! Ini adalah kemarahan dalam kualitas yang sangat tinggi.

 Jika kemarahan adalah sebuah dosa maka Allah dan Yesus adalah pendosa-pendosa besar sebab kemarahan Mereka berada dalam tingkatan yang sangat luar biasa. Tetapi bukankah Mereka itu mahasuci dan tak mungkin berdosa? Jika demikian maka persoalannya bukan terletak pada “apakah Allah berdosa atau tidak?”  tetapi pada interpretasi yang benar tentang kemarahan itu sendiri.
Perhatikanlah ayat berikut : Mazmur 4:5 : “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa…”, Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah,  janganlah kamu berbuat dosa…”. Kedua ayat ini dengan tegas memisahkan kemarahan dan dosa. Rupanya kemarahan tidak diidentikkan dengan dosa tetapi dilihat sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan (penyebab) dosa, atau dosa dilihat sebagai akibat dari kemarahan. Jadi pada dasarnya kemarahan itu netral pada dirinya sendiri. Ia dapat mengakibatkan dosa tetapi bukanlah dosa. Berdosa atau tidaknya suatu kemarahan tidak terletak pada kemarahan itu sendiri tetapi pada hal-hal yang dikaitkan dan dikenakan pada kemarahan itu . Jadi berdosa atau tidaknya kemarahan itu ditentukan oleh hal-hal berikut ini :

LIPUTAN: Ibadah Peneguhan SIDI di BNKP Jemper Bandung Timur (05/11/12)

Diliput oleh: Ben Lase

Setelah melewati masa pemahaman Alkitab selama hampir 1 tahun melalui Katekisasi, maka pada Ibadah Minggu tanggal 5 November 2012 jam 09 - 11 Wib, 7 orang remaja diteguhkan SIDI di BNKP Jemaat Persiapan Bandung Timur. Ibadah Peneguhan SIDI dipimpin oleh Pdt. Herianus Telaumbanua, S.Th.

Foto-foto berikut ini akan menceritakan lebih jauh suasana pada acara tersebut.











Minggu, 25 November 2012

KETEKUNAN MENGHASILKAN TAHAN UJI

“Dan bukan hanya itu saja.
Kita malah bermegah juga
dalam kesengsaraan kita,
karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu
menimbulkan ketekunan.”
(Roma 5:3)

Dalam pergaulan kita sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, baik dalam lingkup yang luas maupun dalam lingkup yang kecil seperti dalam sebuah keluarga. Kita seringkali menemukan masalah, yaitu kesalah-pahaman antara diri kita pribadi dengan orang lain (mungkin anggota keluarga atau anggota masyarakat).

Hal inilah yang seringkali pula membuat hubungan kita menjadi kurang baik atau kurang harmonis dengan orang lain. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, kalau kita mau saling mengerti dan memahami keberadaan orang lain sehingga akan tercipta suatu hubungan yang indah dan harmonis.

Begitu pula dengan umat Tuhan yang memiliki hubungan yang dekat kepadaNya. Hubungan itu akan berjalan dengan baik, apabila kita dapat mengerti dan memahami kehendak Allah dalam kehidupan kita dan bukan sebaliknya, sebab kita adalah umat milik kepunyaan Allah.

Namun tidak sedikit dari orang Kristen yang tidak mau mengerti dan memahami kehendak Allah sehingga mereka banyak yang mempersalahkan Allah atas apa yang mereka alami. Apalagi kalau masalah dan penderitaan hidup sedang melanda kehidupan mereka, maka mereka tidak akan segan-segan untuk mulai mempermasalahkan Allah. Mereka berpikir, pengiringan kepada Allah adalah hal yang menyenangkan, tetapi sebaliknya mengapa justru penderitaan yang harus mereka alami?

Memang merupakan hal yang aneh bila kita harus bermegah dalam penderitaan yang kita alami. Namun justru lewat hal ini, kita dapat memperoleh suatu ketekunan kepada Allah dan ketekunan akan menghasilkan tahan uji. Berarti kita tidak goyah meskipun menghadapi berbagai masalah.

"Selama kita hidup di atas muka bumi ini,
kita menghadapi banyak masalah.
Namun lewat penderitaan yang kita alami,
kita akan semakin bertumbuh dalam iman
yang benar kepada Allah."
 




Minggu, 21 Oktober 2012

KONSEP DIRI DAN KEDEWASAAN ROHANI

Allah memang menciptakan kita dengan kebutuhan untuk merasa aman dan dihargai karena Ia tahu bahwa kita tdk akan pernah menemukannya dlm diri kita ataupun dlm hubungan kita dengan orang lain. Dan tujuan Allah adalah bahwa Ia sendiri yang akan memenuhi kebutuhan tsb.

Kita tidak perlu lagi mencari jati diri kita melalui reaksi-reaksi orang lain mengenai penampilan, prestasi dan status kita.
Penampilan kita, yang diciptakan secara unik dan khusus oleh Allah sendiri, merupakan sarana untuk menunjukkan kasih dan kuasa Nya. Prestasi kita menjadi hasil kerja Allah dalam kehidupan kita yang baru. Dan status kita menjadi penting hanya karena hal itu merupakan kesempatan untuk memuliakan Allah dan melayani orang lain.


Dalam Yoh 13:34-35 Yesus menetapkan sifat yang menjadi ciri muridNya: kasih. Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih yang tulus bukan sekedar perasaan sayang yang diwarnai dengan senyum yang manis, kata-kata pujian atau sikap yang hangat, melainkan juga sikap rela berkorban dan mengutama orang lain. Orang yang melangkah menuju ke kedewasaan rohani harus memutuskan untuk meninggalkan sifat melindungi diri sendiri dan masuk ke dalam pergaulan dengan orang lain yang akan mendorong mereka maju kearah Tuhan.


Dengan membaca firman Tuhan dan bersekutu dngen Dia melalui doa setiap hari secara teratur, orang Kristen yang bertumbuh dapat terus yakin bahwa KEBUTUHAN PRIBADI YANG MEMOTIVASI nya agar merasa aman dan dihargai benar-benar terpenuhi dalam Yesus Kristus. PROSES BERPIKIR dan konsep dirinya bertumbuh berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah, sebagai ganti ketergantungan pada pendapat-pendapat orang lain. Dengan konsep dirinya yang semakin teguh berdasarkan kebenaran-kebenaran Firman Allah, orang Kristen yang bertumbuh itu dapat membedakan kehendak Allah dengen lebih tepat dan semakin mampu MEMILIH perilaku dan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kehendak Allah, sehingga memurnikan pelayanannya kepada Tuhan. EMOSI-EMOSI YANG DIHASILKAN adalah sukacita dan damai sejahtera sebagai ganti kecemasan; kesabaran dan kasih sebagai ganti kemarahan; iman dan pengharapan sebagai ganti rasa bersalah dan depresi.


Emosi-Emosi Yang Negative Dapat Berguna

Orang Kristen yang sehat emosinya adalah orang yang selalu sadar akan emosinya. Ia tidak menahan emosinya, atau mengabaikan keberadaan emosinya, terutama yang negative. Ia juga tidak mencoba menahan emosi-emosi tersebut atau menyimpannya dalam hati agar tidak diketahui oleh orang lain.

Dengan selalu menyadari emosi-emosinya, orang Kristen yang bertumbuh tersebut tidak hanya dapat menikmati emosi-emosi yang positif yang dialaminya tetapi ia juga dapat menggunakan emosi-emosi negative itu untuk bertumbuh secara rohani melalui pembaharuan cara berpikirnya. Ada 3 macam emosi negative yang mendasar:

1. Kemarahan: reaksi terhadap sasaran yang terhalang
2. Depresi: akibat dari sasaran yang tidak tercapai
3. Kecemasan: menunjukkan sasaran yang tidak pasti.

KEPEMIMPINAN YESUS : MELAYANI BUKAN DILAYANI

Markus 10 : 35 - 45

PENGANTAR
 
Pernyataan Yesus ini tidak berdiri sendiri. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks perikop Markus 10 : 35 - 45 dibawah judul : "Permintaan Yakobus dan Yohanes". Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ayat 45 ini merupakan inti dan kesimpulan dari ayat-ayat perikop diatas. Paling tidak ada tiga catatan:
Pertama, berbeda dengan Matius (20:20-28) bahwa yang mengusulkan permintaan adalah ibu mereka, Salome, maka Markus menuturkan bahwa Yakobus dan Yohanes secara langsung datang dan memohon agar Yesus mau mengabulkan permintaan mereka untuk duduk dalam kemuliaan-Nya, yang seorang di sebelah kanan dan yang seorang di sebelah kiri Yesus. Dengan demikian Markus bermaksud untuk tidak menyembunyikan ambisi sebagai ciri kemanusiaan yang juga dimiliki oleh para murid-Nya.
 Kedua, baik Markus maupun Matius mengatakan hal yang sama tentang sifat cemburu sepuluh murid yang mudah tersulut api kemarahan, dalam peristiwa ini kepada kedua rekan mereka, sebagai bagian dari Tim (Markus 10:41, Matius 20:24).
Ketiga, melihat kedua hal tersebut sebagai karakter para murid-Nya yang dapat menimbulkan perselisihan dan mengancam perpecahan para rasul yang ada hubungannya dengan tujuan dan pola kepemimpinan kristiani, maka Yesus memperingati mereka tentang dua hal yang patut menjadi perhatian mereka di kemudian hari :
  • Pertama, hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan (ayat 40).
  • Kedua, berbeda dengan pola kepemimpinan pemerintah bangsa-bangsa yang mengedepankan tangan besi dan kekerasan, maka pola kepemimpian kristiani adalah pola kepemimpinan melayani/menghamba (ayat 43-44). Mengapa demikian? Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (ayat 45)


Renungan Firman Tuhan, Minggu, 21 Oktober 2012

 MARKUS 10 : 35 - 45
  Lalu Yakobus dan Yohanes, yaitu anak-anak Zebedeus, datang kepada Yesus. "Bapak Guru," kata mereka, "ada suatu hal yang kami ingin Bapak lakukan untuk kami." 36 "Apa yang kalian ingin Aku perbuat bagimu?" tanya Yesus. 37 Mereka menjawab, "Kami ingin duduk di kanan kiri Bapak, apabila Bapak bertakhta dengan mulia." 38 "Kalian tidak tahu apa yang kalian minta," kata Yesus kepada mereka, "Sanggupkah kalian minum dari piala penderitaan yang akan Aku minum dan masuk ke dalam kancah penderitaan yang akan Aku masuki?" 39 "Sanggup," jawab mereka. Maka Yesus berkata lagi kepada mereka, "Memang kalian akan minum dari piala penderitaan yang akan Aku minum, dan masuk ke dalam kancah penderitaan yang akan Aku masuki. 40 Tetapi mengenai siapa yang akan duduk di kanan atau kiri-Ku, itu bukan Aku yang berhak menentukan. Allah yang menentukan siapa-siapa yang akan duduk di tempat-tempat itu." 41 Ketika sepuluh pengikut Yesus yang lainnya itu mendengar hal itu, mereka marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42 Jadi Yesus memanggil mereka semuanya, lalu berkata, "Kalian tahu bahwa pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah menindas rakyatnya. Dan pembesar-pembesar mereka menekan mereka. 43 Tetapi kalian tidak boleh begitu! Sebaliknya, orang yang mau menjadi besar di antara kalian, ia harus menjadi pelayanmu. 44 Dan orang yang mau menjadi yang pertama di antara kalian, harus menjadi hamba bagi semua. 45 Sebab Anak Manusia pun tidak datang untuk dilayani. Ia datang untuk melayani dan untuk menyerahkan nyawa-Nya untuk membebaskan banyak orang."

Jumat, 12 Oktober 2012

LIPUTAN : Pelayanan Kunjungan Jemaat Yang Sakit

Pada hari Rabu, 3 Oktober 2012 telah dilakukan Pelayanan Kunjungan Jemaat yang Sakit, yaitu Ibu Ina Mare Waruwu d Komplek Cempaka Arum Bandung. Pelayanan ini dilakukan oleh Bapak Pendeta Herianus Telaumbanua, S.Th beserta Para Majelis BNKP Jemaat Persiapan Bandung Timur. 

Mari kita doakan semuanya, Kira Kuasa Mujizat Kesembuhan dari Tuhan Yesus terjadi kepada Ibu Ina Mare Waruwu. Tuhan Yesus tidak pernah berubah dulu, sekarang dan selamanya, oleh karena bilur2Nya yag tercurah di kayu salib, kita telah disembuhkan.

  Ibu Ina Mare Waruwu, yang didoakan..

 Firman Tuhan dilanjutkan Perjamuan Kudus