YA'AHOWU !! SYALLOM.. Kata Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) FAOMASI ZOAYA

LABEL

Pencarian

MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Jumat, 12 Oktober 2012

LIPUTAN : Acara Perayaan Yubelium BNKP yang ke 147

Acara Perayaan Yubelium BNKP yang ke 147 dilaksanakan di BNKP bandung Timur pada tanggal 7 Oktober 2012. Acara dipimpin oleh Bapak Abadi Gulo, dan pemberitaan Firman Tuhan dipimpin oleh Bpk. Pdt. Juliman Harefa, M.Div, Th.M.

Pembukaan Acara Kebaktian

 
Anak2 SM kelas kecil mempersembahan Pujian untuk Tuhan


 Firman Tuhan disampaikan oleh Bpk. Pdt. Juliman Harefa, M.Div, Th.M.

Minggu, 07 Oktober 2012

Setia Melayani Tuhan

Renungan Harian KristenSuatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, Ibu telah melayani kaum miskin di Kolkata, India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal? Ibu Teresa menjawab, Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ….

Setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasil. Sebab jika panggilannya adalah keberhasilan, ia akan sangat riskan jatuh pada kesombongan atau penghalalan segala cara. Pelayan Tuhan dipanggil untuk setia. Melakukan tugas pelayanannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Semampunya, bukan semaunya. Itulah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus.

Menurut ukuran dunia, Tuhan Yesus bisa dibilang tidak berhasil semasa hidup-Nya. Betapa tidak, Dia harus menjalani hukuman salib. Satu murid-Nya mengkhianati-Nya. Satu murid lagi menyangkali-Nya. Dan, para murid-Nya yang lain kocar-kacir meninggalkan-Nya dan bersembunyi. Tiga tahun berkarya, ujung-ujungnya hanya begitu. Namun, Dia toh tetap setia menjalankan tugas pelayanan-Nya; melaksanakan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34). Dia tidak undur sedikit pun. Itu sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia (ayat 9). Kesetiaan-Nya membuahkan keselamatan manusia.
Dalam melayani, bisa saja kita melihat bahwa apa yang kita lakukan seolah-olah tidak ada hasilnya. Bila kita menghadapi situasi demikian, jangan undur. Tetaplah setia. Kesetiaan kita dalam melayani Tuhan tidak akan pernah sia-sia.

Lirik: Nyanyian Kemenangan

Sekarang t’lah tiba
Keselamatan dan kuasa
Dan pem’rintahan Allah kita
Kuasa Dia yang di urapiNya
Kar’na t’lah di lemparkanNya
Para pendakwa kita

Oleh darah anak domba
Oleh kesaksian kita
Iblis dikalahkan
kuasaNya di hancurkan
oleh darah anak domba.

Minggu, 30 September 2012

Tanggung Jawab Jemaat Terhadap Pemimpin Gereja

Alkitab memberikan setidak-tidaknya 3 hal sebagai leadership yang salah (khususnya untuk para pemimpin gereja)

PROBLEM 1: Sok berkuasa (tangan besi) – gaya memaksa, haus akan kekuasaan, fokus otoriter (fokus dari atas ke bawah).

PROBLEM 2 – 1Petrus 5:2-3 Ingin mengambil untung. Pelayanan bukan untuk tempat mencari uang!! Gereja bukan bisnis atau tempat mencari uang!

PROBLEM 3 – Stubborn, Untouchable – tidak mau dengar nasihat, tidak pernah salah. Amsal berkata pentingnya untuk orang mendengar nasihat dan masukan! Setiap dari kita belajar untuk terima masukan punya hati yang besar. Hati yang besar selalu mau terima masukan, dan hati kecil tidak mau/susah menerima masukan, terutama berbicara soal hal-hal yang tidak enak atau blind spot dari hidupnya. Jadilah pemimpin dan orang2 Kristen yang mau disentuh oleh masukan. Momen saat kita tidak mau terima masukan dari teman, pasangan, dan orang lain maka hidup kita akan hancur (sekarang dan di masa depan). Orang seperti ini akan susah untuk bergaul dengan orang lain dan tidak bisa menjadi seorang pemimpin! Friendship dibangun atas dasar kebenaran dan kasih. Kalau dibangun atas dasar “tidak enak”, maka akan jadi masalah! Saat kita mengasihi, kita akan menyatakan kebenaran, karena kita mengasihi orang itu.

Teologi kalau tidak hati-hati bisa membuat kita menjadi sombong dan malah menghancurkan. Hal ini sudah terjadi dari abad awal-awal dimana pemimpin2 gereja ribut sendiri dan pada akhirnya komunis dan kepercayaan lain mendominasi. Bahkan kadang ribut soal hal-hal yang sepele atau soal penekanan/secondary padahal hal-hal basic (soal alkitab, Roh Kudus, Tri Tunggal, Yesus sebagai keselamatan semata-mata) sama.

Ayat tadi berkata “taat dan tunduklah” pada pemimpin.
Istilah taat/obey dan tunduk/submit di sini adalah dalam bentuk present imperative (terus menerus dan kalimat perintah). Taat di sini berbicara soal percaya/trust/rely upon dan tunduk/submit seperti give up/tidak melawan karena sesuatu yang diajarkan memang sesuai dengan firman Tuhan. Tunduk pada leaders juga berarti tunduk pada Tuhan, karena apa yang diajarkan dan dibangun atas dasar firman Tuhan, karena Tuhan menunjuk pemimpin-pemimpin. Kalau tidak sesuai dengan firman Tuhan, maka kita harus mempertanyakan sang pemimpin. Kadang-kadang submission berhubungan dengan hati dan obey dari sikap attitude. Kita bisa obey tapi dengan hati yang kesal (hanya dari luar saja melakukan). Tanpa obey dan submission, tidak akan ada gereja, karena setiap orang bisa punya prinsip dan penekanan yang berbeda-beda. Gereja tidak akan bisa maju saat tidak bersatu! Kalau punya sikap rebellious, maka akan berbahaya.

APA ALASAN UNTUK TAAT PADA PEMIMPIN GEREJA

Lirik: Manis Kau Dengar

Ya Tuhanku aku hendak bernyanyi bagiMu
Selama ku hidup
Ya Allahku aku hendak bermazmur bagiMu
Selagi ku ada

Inilah yang kurenungkan
Setiap waktu
Nyanyian pujian dan pengagungan
kepadaMu

Biarlah manis Kau dengar Tuhan
Manis Kau dengar Tuhan
Dan hatiku bersuka
Kar’naMu.

Lirik: Mereka Perlukan Kasih Tuhan

Tiap hari ku temukan
Mereka yang terhilang
hidup yang tak menentu
Arah tujuan

Dalam tawa mereka
Tersimpan duka
Namun Tuhan mendengar
Tangis mereka

M'reka perlukan
Kasih Yesus yang benar
S'bagai jawaban

M'reka perlukan
Tidakkan Kau sadari
Dia kasih yang sejati
M'reka perlukan

Strategi Melindungi Uang Tuhan

Ada juga gereja di Indonesia yang tertular penyakit “penggelapan” harta “Tuhan”. Bagaimana gereja melindungi diri dari celah menggunakan uang jemaat bagi kepentingan pribadi?

BANYAK tanah dan harta benda gereja yang melayang karena disalahgunakan oleh oknum pendeta demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Apa yang dialami oleh gereja terbesar di Singapura itu, berpotensi terjadi juga di Indonesia bila tidak diawasi dengan ketat. Kasus penjualan tanah PSKD di samping Kantor PGI Salemba, merupakan satu dari puluhan kasus penjualan asset gereja untuk kepentingan individual.
Ada juga lembaga gereja yang tidak memiliki sistem keuangan yang baik, atau bahkan dengan sengaja dibiarkan “buruk” sehingga peluang manipulasi tersedia. Nah, bagaimana gereja-gereja melindungi diri dari kesalahan menggunakan “uang Tuhan” sehingga lembaga gereja masih menjadi institusi yang dipercayakan Tuhan untuk mengelola harta-Nya?

Otonomi gereja lokal
Menurut bendahara Sinode GBI (Gereja Betel Indonesia) Ir. Suyapto Tandyawasesa, pihak sinode mendapatkan uang dari iuran gereja-gereja anggotanya yang digunakan untuk kepentingan pelayanan. “Itu tidak akan dipakai untuk kebutuhan pribadi,” kata mantan bendahara PGI dan pernah juga aktif di pengurus teras PGLII ini.
Sementara gereja lokal menata keuangannya secara otonom dengan juga berpedoman pada pedoman penatalayanan yang diatur berdasar pada jumlah jemaat dan pemasukan atau income. Semuanya telah diatur, pendeta tidak bisa pakai sesuka hatinya. Ia mencontohkan, semakin besar gereja, maka semakin kecil prosentase alokasi untuk Hamba Tuhan, termasuk pejabat sekelilingnya. “Itu karena harus dibagi ke pos-pos lainnya seperti untuk misi, pemeliharaan dan pengembangan,” terangnya sambil menambahkan, penggunaan keuangan gereja berada di bawah pengawasan komisi keuangan gereja.
Fenomena kemakmuran yang nampak dalam kehidupan para pendeta GBI lebih banyak diakibatkan oleh persembahan perpuluhan atau sukarela dari pribadi jemaat yang kebetulan juga kaya. “Itu karena jemaat memang rindu untuk memberikan persembahan kasih kepada Hamba Tuhannya,” kata Suyapto. Berulangkali ia menegaskan bahwa keuangan gereja di GBI ditata dengan transparan dan terkontrol.
Pengontrolan itu nampak sejak kolekte masuk hingga alokasi dan evaluasi penggunaannya yang dilakukan oleh orang yang benar-benar kredibel dan punya integritas yang tinggi. “Kantong kolekte juga dibuat mulutnya kecil, supaya terlindung dari kelemahan daging,” tambahnya.
Sejak tahun 1980-an, gereja-gereja yang berada dalam naungan GBI sudah biasa mencatat dan melaporkan keuangannya dengan terperinci. “Sesegera mungkin, uang kolekte harus diserahkan ke Bank,” ia mencontohkan. Tambahan lagi, setiap tahun biasanya dilakukan audit keuangan gereja oleh lembaga terpercaya.