YA'AHOWU !! SYALLOM.. Kata Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) FAOMASI ZOAYA

LABEL

Pencarian

MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Jumat, 24 Agustus 2012

Lirik: Kaulah Yang Terindah

Kau yang terindah
Di dalam hidup ini
Tiada Allah Tuhan yang seperti Engkau
Besar perkasa penuh kemuliaan

Kau yang termanis
Di dalam hidup ini
Ku cinta Kau lebih dari segalanya
Besar kasih setiaMu kepadaku

Reff:

Kusembah Kau ya Allahku
Kutinggikan lutut tak bertelut
Menyembah Yesus Tuhan rajaku.
(2x)

Lirik: Kaulah Harapanku

Bukan dengan kekuatanku
Ku dapat jalani hidupku

Tanpa Tuhan yang di sampingku

Ku tak mampu sendiri

Engkaulah kuatku

Yang menopangku


Reff:


Kupandang wajahMu dan berseru

Pertolonganku datang dariMu

Peganglah tanganku, jangan lepaskan

Kaulah harapan dalam hidupku.

Minggu, 19 Agustus 2012

Sejarah Singkat BNKP

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Banua_Niha_Keriso_Protestan

Agama Kristen pertama-tama dibawa ke P. Nias oleh misi Katolik dari Prancis, yaitu Missions Etrangers de Paris, namun pekerjaan itu berlangsung singkat saja, dari 1832-1835.

Misi Protestan dimulai pada tahun 1865 oleh penginjil Jerman, E. Ludwig Denninger dari Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) pada tanggal 27 September 1865. Badan misi ini untuk sementara waktu dikeluarkan dari Kalimantan. Pada saat itu penduduk pulau itu memeluk agama leluhur.

Hingga tahun 1900, ketika pemerintah kolonial Belanda masuk, pertumbuhan gereja di sana berlangsung lambat sekali. Baptisan pertama dilakukan pada 1874. Sekitar 15 tahun kemudian (1890), jumlah orang Kristen yang telah dibaptis baru mencapai 706 orang. Jumlah ini bertambah hingga 20.000 orang pada 1915.

Dari 1915-1920 komunitas Kristen di Nias mengalami kebangunan rohani yang besar, sehingga terjadilah pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 1921 sudah 60.000 orang dibaptiskan - pertambahan sejumlah 40.000 orang hanya dalam waktu lima tahun.

Pada tahun 1936 Sinode BNKP yang pertama dibentuk dan hingga tahun 1940 dipimpin oleh seorang misionaris Jerman. Kebangunan rohani berikutnya (1938-1942, 1945-1949) tidak hanya melahirkan pertumbuhan tetapi juga perpecahan gereja (Fa’awösa khö Geheha and Fa’awösa khö Jesu).

Sementara itu di Nias berkembang pula Gereja Advent dan Gereja Katolik Roma. Namun demikian BNKP tetap merupakan Gereja terbesar, yang mencakup 60% dari seluruh penduduk. Oleh karena itu, Gereja ini merupakan faktor yang penting dalam berbagai segi kehidupan masyarakat di pulau itu. Gereja ini boleh dikatakan mempersatukan masyarakat Nias menjadi satu kesatuan etnik dan bahasa. Bahasa Nias utara dijadikan bahasa Alkitab dan Gereja. Alkitab lengkap dalam bahasa Nias diterbitkan pada 1913.

Saat ini, dari sekitar 500.000 penduduk, sekitar 73% beragama Kristen Protestan, 18% Katolik Roma, dan 7% beragama Islam, sementara sisanya memeluk agama leluhur.

(Catatan: Apabila ada data lebih akurat, maka kami sangat mengharapkan untuk di email kepada kami di bnkpbandungtimur@yahoo.co.id)

Puisi: Sore Ini Dengan Kau


sore ini, dengan Kau yang di sampingku
hembusan angin kembali mengacak rambutku
aroma tanah yang basah karena gerimis menyelinap dalam hidungku
aku merasa sejuk dan nyaman
ini masa yang menenangkan

sore ini, dengan Kau yang merangkulku
mataku menyeruak awan putih yang tipis
langit keemasan dengan matahari yang malu-malu bersembunyi
sinar yang lembut membuat rona pada pipiku
ini waktu yang melegakan

sore ini, kemboja merah muda mekar di pekarangan
daun yang hijau tua mengisi batang yang coklat dan kuat
Kau memetik satu kamboja dan menyelipkannya di rambutku
ini saat  yang menyenangkan

nanti, bila aku tidak dapat menemukan sore dengan angin yang mengacak rambutku
atau sore dengan matahari yang malu-malu
aku akan mengingat, bahwa sore yang sejuk itu ada
nanti, bila kamboja merah muda sudah layu
bahkan daun hijau tua tidak lagi melilit batang kecoklatan
aku akan mengingat, warna kesayangan di sore yang tak terlupakan

nanti, nanti…
bila sore yang teduh sudah tidak ada
maukah Kau tetap bersama-Ku?
kalau-kalau seperti tidak ada lagi yang menyukakanku
maukah Kau tetap erat menggenggam dan merangkulku?
seperti ini, dengan atau tanpa sore hari
dengan Kau, itu lebih dari cukup untukku


By: http://fos-community.com

Puisi: SAAT SEMUA PINTU TERTUTUP


Telah lama aku menangis
Meminta-Mu membukakan satu pintu untukku
Pintu yang dapat kumasuki ‘tuk berjaya
Menyatakan Kau-lah Tuhanku

Tetapi ‘ku tak sanggup menggerakkan hati-Mu
Saat Kau menutup pintu tak ada yang dapat membukanya
Sekalipun aku meraung-raung dan menangis tak henti
Serta berkata, ‘Bukankah Kau, Tuhanku?’

Sekarang aku kelu
Airmata kering menjadi isak tertahan
Seperti pengemis yang mengais pengasihan Tuhan-ku
Berharap Ia tak menolak aku

Dalam diam hatiku menjerit
Tuhan janganlah Kau lupakan aku
Tak Kau lihatkah aku telah lama menunggu di sini?
Janganlah Tuhanku membuang aku

Pintu-pintu yang ingin kulalui masih tertutup
Tuhanku, aku sudah tak mengharapkannya lagi
Namun jika Tuhanku tutup pintu hati Tuhan
Bagaimana aku menyangkali cinta ini?

Sumber: http://creativege.wordpress.com

Perjalanan Injil di Nias dan Kondisi Terkini

Oleh: Pdt. Foluaha Bidaya, S.Th, M.Div*

Dengan mengingatkan kembali sejarah masuknya Injil di Kepulauan Nias, paling tidak akan melahirkan dua respon bagi setiap umat Kristen yang membaca, pertama, rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah Bapa di surga atas kasih, anugerah dan kemurahanNya yang telah menyelamatkan sebagian besar masyarakat Kepulauan Nias menjadi umat tebusan-Nya. Kedua, introspeksi diri dan evaluasi mengenai kehidupan Kekristenan di Kepulauan Nias sebagai hasil dari berita Injil sejak awal hingga pada masa kini.

Masuknya Injil di Kepulauan Nias
Masuknya Injil di Kepulauan Nias tidak terlepas dari titik tolak penginjilan sedunia, yaitu ”Amanat Agung Tuhan Yesus”. Dalam Matius 28:19–20,dikatakan ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.Dalam bahasa Li Niha: ”Mi’ae’e,  mibali’ö nifaha’ö fefu soi, wamayagö idanö ya’ira ba döi Nama ba ba döi Nono ba ba döi Geheha Ni’amoni’ö.”

Pada umumnya, kita harus akui secara jujur bahwa masuknya Injil yang melahirkan gereja-gereja Kristen Protestan di Indonesia berboncengan dengan misi kolonial Belanda (VOC) sekitar abad ke-16.
Demikian halnya di Pulau Nias dan pulau-pulau sekitarnya sebagai salah satu daerah kepulauan di tepi barat Pulau Sumatera yang menyimpan berbagai potensi yang terpendam dan terabaikan selama ratusan tahun sebelum Injil masuk, dapat dicatat bahwa masuknya Injil yang melahirkan gereja-gereja Kristen Protestan di Kepulauan Nias dibawa oleh lembaga misi dari Jerman, yaitu: Rhenische Mission Gesellschaft (RMG) yang saat ini dikenal dengan nama Vereinte Evangelische Mission” (VEM), dalam bahasa Inggris United Evangelical Mission (UEM)  dan badan misi dari Belanda, yaitu: Amsterdamer Lutherische Mission yang keduanya  berbonceng dengan VOC atau paling tidak diberi kemudahan-kemudahan oleh kolonial Belanda saat itu, untuk memberitakan Injil Keselamatan di kepulauan Nias.
Satu nama yang patut dicatat dan tak pernah bisa dilupakan, sebagai orang pertama yang pembawa berita Injil di kepulauan Nias, ia tiba di Gunungsitoli pada tanggal 27 September 1865, yaitu E.L. Denninger. Menurut sejarah bahwa E.L. Denninger awalnya ia diutus oleh badan misi dari Jerman untuk memberitakan Injil di Kalimantan, tetapi karena terjadinya perang suku di Kalimanatan  mengakibatkan terancamnya pula hidup para misionaris, termasuk E.L.Denninger, ia memutuskan untuk pindah ke Padang. Di Padang E.L. Denninger bertemu dengan orang-orang Nias, ia belajar bahasa dan budaya Nias. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke Pulau Nias.
Dapat dicatat bahwa Injil keselamatan yang dibawa oleh E.L. Denninger menghasilkan buah. Masyarakat Nias yang sebelumnya menganut kepercayaan pribumi yang dikenal dengan ”pelebegu”, yaitu penyembahan berhala yang berwujud pada kepercayaan terhadap dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang, secara bertahap mulai percaya pada berita Injil, mereka menerima Yesus Kristus Juru Selamat dan penebus dosa umat manusia (Kisah Para Rasul 4:12), lalu mereka memberi diri dibaptis.
Karena respons positif masyarakat Nias terhadap berita Injil, E.L. Denninger melaporkan hal tersebut di Jerman dan meminta agar RMG mengutus missonaris lainnya untuk membantu ”penuaian” di kepulauan Nias. Beberapa stasiun misi didirikan, misalnya di Telukdalam dimulai tahun 1886 oleh J.W. Thomas, di Pulau Tello dibuka oleh P.J. Kersten dari Belanda tahun 1889, di Hinako dibuka oleh W. Hoffmann tahun 1899, di Sirombu dibuka oleh A. Pilgenroder tahun 1902, di Lawelu dibuka oleh H.Lagemann tahun 1919, di Lahewa dibuka oleh D. Babfeld tahun 1925 dan lain-lain.
Dari semua hasil penginjilan yang dilakukan lahirlah denominasi Gereja BNKP dan dari BNKP lahir pula denominasi yang lain, seperti AFY, ONKP, AMIN, BKPN dan GNKP-Indonesia serta lainnya.
Tidak mudah menerobos kepercayaan lama dan budaya Nias yang begitu ketat dengan strata sosialnya. Namun, karena kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8) dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para misionaris telah mampu membawa Injil ke pintu hati masyarakat Kepulaun Nias sehingga sampai saat ini Kekristenan menduduki posisi sekitar 97 persen.

Lirik: Kaulah Kuatku

Meskipun musuh di depanku
Rintangan menghadang langkahku

Ku tahu sungguh, Engkau bersamaku


Beribu rebah di kiriku

Berlaksa di sisi kananku

Ku tahu janjiMu, Engkau bersamaku


Tak pernah giyah keyakinanku

Pada diriMu, Yesus Tuhanku

Tiada yang seperti diriMu


Reff:


Kaulah kuatku, kebanggaanku

Gunung batu dan keselamatanku

Kuat tanganMu, perlindunganku

Kaulah Allah sumber kemenanganku.