Belum pernah ada
Kasih di dunia
Sanggup menerima diriku apa adanya
Selain kasihMu, Yesus
Tak kan ada lagi
Kasih seperti ini
Sanggup mengubahkan hidupku
Menjadi baru
Selain kasihMu, Yesus
Kau...
Ku kagumi dalam hati
KasihMu tiada duanya
Sampai kini, ku akui
KasihMu tiada duanya.
Syallom... Weblog Faomasi Zoaya ini memuat perjalanan iman bersama Tuhan Yesus. Ingat selalu akan kasih pengorbananNya di atas kayu salib, biarlah hidup kita menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan pada Allah Bapa. Kiranya dapat Menjadi Berkat, menguatkan iman dan menjadi kemuliaan bagi Allah Bapa di sorga. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
LABEL
- APA KATA ALKITAB (23)
- ARTIKEL ROHANI (177)
- HUMOR (20)
- I N F O (8)
- KELUARGA (8)
- KESAKSIAN (29)
- LIPUTAN (44)
- LIRIK LAGU (69)
- N I A S (14)
- PUISI (8)
- RENUNGAN (127)
- S E H A T (10)
- T I P S (8)
- U M U M (41)
Pencarian
MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.
Sabtu, 29 September 2012
Lirik: Kau Mengenal Hatiku
Hanya dekat kasihMu Bapa
Jiwaku pun tent’ram
Engkau menerimaku dengan sepenuhnya
Walau dunia melihat rupa
Namun Kau memandangku
Sampai kedalaman hatiku
Reff:
Tuhan inilah yang ku tahu
Kau mengenal hatiku
Jauh melebihi semua yang terdekat sekalipun
Tuhan inilah yang ku mau Kau menjaga hatiku
Supaya kehidupan memancar senantiasa.
Jiwaku pun tent’ram
Engkau menerimaku dengan sepenuhnya
Walau dunia melihat rupa
Namun Kau memandangku
Sampai kedalaman hatiku
Reff:
Tuhan inilah yang ku tahu
Kau mengenal hatiku
Jauh melebihi semua yang terdekat sekalipun
Tuhan inilah yang ku mau Kau menjaga hatiku
Supaya kehidupan memancar senantiasa.
" F I T N A H "
Yakobus 4:11-12
“Fitnah”…! “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.” Itu adalah suatu istilah yang hampir diketahui semua orang, baik tua atau muda, bahkan siapa saja. Oh, ya? Sampai sekejam itu? Persisnya, ya! Alasannya? Bayangkan saja bila Anda sendiri difitnah orang. Padahal Anda tidak melakukan seperti apa yang difitnahkan. Bukankah itu mematikan karakter namanya? Bukan cuma itu. Karena dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan selalu negatif, tidak pernah ada yang positif. Fitnah tidak hanya sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga bisa mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Karena itulah fitnah memang sangat berbahaya.
Fitnah… memang lebih tajam dari sebilah pedang! Luka yang ditimbulkan oleh tajamnya pedang mungkin masih bisa diobati, tetapi luka yang ditimbulkan oleh tajamnya kata-kata (fitnah) susah sekali dicari penawarnya. Itulah mengapa orang sering mengatakan bahwa: “fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”. Dalam teks asli Yunani dalam Alkitab, “fitnah” menggunakan kata “katalalew” biasa merujuk pada segala macam perkataan negatif untuk menentang orang lain, misalnya “menentang pemimpin atau Allah” (Bil.12:8; 21:5, 7), “mengumpat” (Mzm 101:5), “menghina” (Ay 19:3), “mengatakan sebuah dusta” (Hos 7:13), “mengatakan sesuatu yang bisa dianggap kurang ajar” (Mal 3:13) atau “memfitnah/ menuduh” (1Pet 2:12; 3:16).
Fitnah…hampir tidak ada orang yang menyukainya. Termasuk Anda dan saya. Tapi bukankah ini yang sering orang lakukan?! Dan, maaf…. Jangan-jangan tanpa sadar, saudara dan saya juga melakukannya? Benar Saudara? Bukankah juga bahwa dalam kenyataannya sering perselisihan timbul di tengah masyarakat atau jemaat sebagai akibat dari fitnah itu? Fitnah, bisa terjadi pada siapa saja. Baik dari kalangan atas sampai bawah, tak peduli apakah mereka itu orang terhormat atau orang biasa, apakah ia seorang yang mengaku sudah lama sebagai orang percaya atau sebagai orang yang baru saja percaya. Dan dalam kenyataan sehari-hari kita dapat melihat sering juga timbul konflik yang berkepanjangan, baik antara pribadi dengan pribadi, antara keluarga dengan keluarga, antara kelompok dengan kelompok, antara suku dengan suku, antara agama dengan agama, bahkan di dalam kelompok satu agama sekalipun.
Fitnah… merupakan semacam penyakit hati disebabkan oleh menuruti hawa nafsu, menuruti bujukan setan, tidak percaya diri, iri hati dengan orang lain dan kurangnya mensyukuri berkat-berkat Allah yang ada pada diri sendiri. Penyebabnya bisa beraneka ragam, antara lain : egoisme, tidak sepaham, tidak mau menerima orang lain sebagaimana adanya, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, kepentingan polotik, kebencian, pembalasan oleh karena dendam yang berkepanjangan dll. Rasul Yakobus berkata: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” (Yak 4:1). Rasul Paulus dalam surat Galatia menggolongkan sebagai: ”perbuatan daging” antara lain perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, (bdk.Galatia 5 : 20). Ini semua adalah penyakit manusia sejak jaman Adam (band. Perisistiwa Kain dan Habel) yang patut diwaspadai.
Fitnah… adalah dosa dan setiap dosa akan berakibat berlakunya penghukuman Allah bagi siapa saja yang melakukannya. Sementara akibat yang ditimbulkan dari fitnah itu sendiri sangat berbahaya dan merugikan. Antara lain: dapat memutuskan tali silaturahmi, merugikan orang lain dan diri sendiri, perpecahan, mengotori pikiran, dibenci Allah serta akan dibenci dan dihindari (dikucilkan) oleh orang lain. Dalam Yak 4:11-12 bahkan nampaknya mempunyai arti yang khusus/berbeda. Ini dapat kita lihat dari ayat 11a: “memfitnah saudaranya atau menghakiminya”. Jadi disini memfitnah diartikan sebagai menghakimi.
“Fitnah”…! “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.” Itu adalah suatu istilah yang hampir diketahui semua orang, baik tua atau muda, bahkan siapa saja. Oh, ya? Sampai sekejam itu? Persisnya, ya! Alasannya? Bayangkan saja bila Anda sendiri difitnah orang. Padahal Anda tidak melakukan seperti apa yang difitnahkan. Bukankah itu mematikan karakter namanya? Bukan cuma itu. Karena dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan selalu negatif, tidak pernah ada yang positif. Fitnah tidak hanya sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga bisa mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Karena itulah fitnah memang sangat berbahaya.
Fitnah… memang lebih tajam dari sebilah pedang! Luka yang ditimbulkan oleh tajamnya pedang mungkin masih bisa diobati, tetapi luka yang ditimbulkan oleh tajamnya kata-kata (fitnah) susah sekali dicari penawarnya. Itulah mengapa orang sering mengatakan bahwa: “fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”. Dalam teks asli Yunani dalam Alkitab, “fitnah” menggunakan kata “katalalew” biasa merujuk pada segala macam perkataan negatif untuk menentang orang lain, misalnya “menentang pemimpin atau Allah” (Bil.12:8; 21:5, 7), “mengumpat” (Mzm 101:5), “menghina” (Ay 19:3), “mengatakan sebuah dusta” (Hos 7:13), “mengatakan sesuatu yang bisa dianggap kurang ajar” (Mal 3:13) atau “memfitnah/ menuduh” (1Pet 2:12; 3:16).
Fitnah…hampir tidak ada orang yang menyukainya. Termasuk Anda dan saya. Tapi bukankah ini yang sering orang lakukan?! Dan, maaf…. Jangan-jangan tanpa sadar, saudara dan saya juga melakukannya? Benar Saudara? Bukankah juga bahwa dalam kenyataannya sering perselisihan timbul di tengah masyarakat atau jemaat sebagai akibat dari fitnah itu? Fitnah, bisa terjadi pada siapa saja. Baik dari kalangan atas sampai bawah, tak peduli apakah mereka itu orang terhormat atau orang biasa, apakah ia seorang yang mengaku sudah lama sebagai orang percaya atau sebagai orang yang baru saja percaya. Dan dalam kenyataan sehari-hari kita dapat melihat sering juga timbul konflik yang berkepanjangan, baik antara pribadi dengan pribadi, antara keluarga dengan keluarga, antara kelompok dengan kelompok, antara suku dengan suku, antara agama dengan agama, bahkan di dalam kelompok satu agama sekalipun.
Fitnah… merupakan semacam penyakit hati disebabkan oleh menuruti hawa nafsu, menuruti bujukan setan, tidak percaya diri, iri hati dengan orang lain dan kurangnya mensyukuri berkat-berkat Allah yang ada pada diri sendiri. Penyebabnya bisa beraneka ragam, antara lain : egoisme, tidak sepaham, tidak mau menerima orang lain sebagaimana adanya, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, kepentingan polotik, kebencian, pembalasan oleh karena dendam yang berkepanjangan dll. Rasul Yakobus berkata: “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” (Yak 4:1). Rasul Paulus dalam surat Galatia menggolongkan sebagai: ”perbuatan daging” antara lain perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, (bdk.Galatia 5 : 20). Ini semua adalah penyakit manusia sejak jaman Adam (band. Perisistiwa Kain dan Habel) yang patut diwaspadai.
Fitnah… adalah dosa dan setiap dosa akan berakibat berlakunya penghukuman Allah bagi siapa saja yang melakukannya. Sementara akibat yang ditimbulkan dari fitnah itu sendiri sangat berbahaya dan merugikan. Antara lain: dapat memutuskan tali silaturahmi, merugikan orang lain dan diri sendiri, perpecahan, mengotori pikiran, dibenci Allah serta akan dibenci dan dihindari (dikucilkan) oleh orang lain. Dalam Yak 4:11-12 bahkan nampaknya mempunyai arti yang khusus/berbeda. Ini dapat kita lihat dari ayat 11a: “memfitnah saudaranya atau menghakiminya”. Jadi disini memfitnah diartikan sebagai menghakimi.
Lirik: Kau Sangat Ku Cinta
Bersyukur selalu bagi kasihMu
Di dalam hidupku
Tak kan ku ragu atas rencanaMu
Tuk masa depanku
S'bagai Bapa yang baik
Tak kan pernah Kau melupakanku
S’bagai Bapa yang sangat baik
Tak kan pernah Kau meninggalkanku
Reff:
Ku kan menari dan bersuka kar’naMu oh Yesusku
Dan ku kan minum airMu bagai rusa rindu selalu
Ku hidup dalamMu dan hidupMu di dalamku
Oh Yesusku…Kau sangat ku cinta.
Di dalam hidupku
Tak kan ku ragu atas rencanaMu
Tuk masa depanku
S'bagai Bapa yang baik
Tak kan pernah Kau melupakanku
S’bagai Bapa yang sangat baik
Tak kan pernah Kau meninggalkanku
Reff:
Ku kan menari dan bersuka kar’naMu oh Yesusku
Dan ku kan minum airMu bagai rusa rindu selalu
Ku hidup dalamMu dan hidupMu di dalamku
Oh Yesusku…Kau sangat ku cinta.
Lirik: Kau Tetap Allah
Betapa dahsyat Engkau Tuhan
Pencipta segala yang ada
Dulu s’karang sampai s’lamanya
Hanya Engkau Tuhan
Tak terselami pikiranMu
Tak terukur panjang setiaMu
Dulu s’karang sampai selamanya
Hanya Engkau Tuhan
Reff:
Pencipta segala yang ada
Dulu s’karang sampai s’lamanya
Hanya Engkau Tuhan
Tak terselami pikiranMu
Tak terukur panjang setiaMu
Dulu s’karang sampai selamanya
Hanya Engkau Tuhan
Reff:
Jumat, 24 Agustus 2012
Puisi: Ketika Tuhan Berbicara
Aku berlari…
Langkah ini kubawa menuju jalan yang tak pasti
Harapanku tlah sirna, dan impian malah berbalik menghujamku
Membunuh sisi terdalam dari lubuk hatiku
Meninggalkan bekas luka yang tak tahu kapan kan bisa pulih
Aku bertanya…
Tuhan, dimana Kau saat semuanya terasa sakit
Namun hanya hening, diam, tiada suara apapun yang terdengar
“Kenapa, apa salahku? Dimanakah Kau berada,” pekikku dalam batin
Aku membutuhkanMu…..
Aku diam...
Tiada lagi kekuatan yang kumiliki untuk melawan keadaan
Tangisan menjadi kawan setia yang mengiringi hari-hari tanpa asa
Bagiku, duniaku tlah runtuh, dan tak ada lagi tempat yang tersisa untukku
Gelap dan kosong, kala kupejamkan mataku.
Dalam ketidakberdayaan, kuhempaskan jiwaku dalam keputusasaan
Terasa begitu sunyi dan sepi, hanya terdengar suara hujan dan desir angin
Namun tetesan air hujan seakan terasa membasahi tanah hatiku yang tandus
Dalam hening, kudengar suaraNya, berbisik melalui suara alam
“Jangan takut, kemanapun kau pergi, Aku akan selalu menyertaimu”
Contoh-contoh Latihan Pemuridan Dalam Alkitab
Ketika hari siang, Ia memanggil murid-muridNya
kepadaNya, lalu memilih dari antara mereka duabelas orang, yang
disebutnya rasul (Lukas 6:13).
Bila seorang gembala sidang memperhatikan sidangnya,
apa yang dilihat? Banyak macam kebutuhan. Barangkali ada orang yang
belum menjadi Kristen. Ada orang yang sedang mencari-cari. Ada yang
ingin tahu, dan ada sebagian yang telah dibawa ke gereja oleh seorang
kawan yang menaruh perhatian. Ia melihat orang-orang yang berbeban berat
dengan penderitaan dan orang-orang yang ditimpa tekanan-tekanan,
keputusasaan, dan sakit hati.
Gembala sidang itu melihat orang-orang Kristen muda
yang bergairah dalam kehidupan barunya dalam Kristus. Ia melihat orang
Kristen lama yang sudah pernah mendengar tentang semua itu tetapi acuh
tak acuh. Ia melihat orang-orang yang setia hadir dalam semua kegiatan
gereja.
Gembala sidang itu melihat pengantin baru. Ia
melihat mereka yang mengalami kesulitan dalam rumah tangganya. Ia
melihat keluarga yang ada dalam kesukaran ekonomi; usahanya tidak
berjalan lancar. Ia melihat usahawan yang berhasil dan suami yang
kehilangan pekerjaan. Ia melihat petani yang menantikan hujan turun;
kalau tidak, panennya akan gagal. Dan berbagai hal lainnya dilihatnya
pada sidang itu.
Pada waktu pengkhotbah itu berdiri dihadapan
orang-orang itu, terlintas dalam pikirannya : "Bagaimana dapat saya
melayani orang-orang itu dan memenuhi kebutuhan mereka hanya dengan satu
atau dua kali berkhotbah saja setiap minggu?" Mungkin setiap orang di
dalam sidang itu masing-masing mempunyai kebutuhannya sendiri. Apa
jawaban bagi soalnya itu?
Langganan:
Postingan (Atom)

