YA'AHOWU !! SYALLOM.. Kata Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) FAOMASI ZOAYA

LABEL

Pencarian

MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Sabtu, 21 Oktober 2017

HIDUPKU KESAKSIANKU

(Bacaan : 1 Petrus 2:9-17)

"Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka." (1 Petrus 2:12)


Beranikah kita membuat survei untuk mencari tahu komentar orang terhadap cara hidup pengikut Kristus? Bisakah kita menduga hasil dari survei semacam itu? Kira-kira kita akan lebih banyak membaca pujian dan kekaguman ataukah cibiran dan cemoohan? Jangan-jangan kesimpulan kita adalah: justru orang-orang kristianilah yang kerap menghambat kemajuan pemberitaan Kabar Baik.

Dipindahkan dari gelap menuju kepada terang yang ajaib bukanlah akhir cerita dari umat Allah. Petrus memberikan kesaksian bahwa kita diselamatkan untuk memberitakan perbuatan Allah yang besar ini kepada semua orang (ayat 9). Diyakini bahwa bersaksi melalui perkataaan dan menjadi saksi melalui kehidupan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
 

Rasul Petrus mengingatkan umat Tuhan untuk memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah mereka yang belum percaya agar kehidupan mereka tidak dapat difitnah oleh siapa pun. Kehidupan yang murni bukan saja menjadi kewajaran umat Tuhan, melainkan juga akan menjadi kesaksian yang menarik bagi mereka yang belum mengenal Dia. Harus diakui bahwa salah satu penyebab orang tidak tertarik dengan Kabar Baik yang kita sampaikan adalah karena cara hidup kita yang buruk.

Mari kita mawas diri. Apakah cara hidup kita telah mampu bersuara tentang perubahan hidup yang kita miliki? Ataukah gaung Berita Baik itu tertindih oleh buruknya kelakuan kita sebagai umat Tuhan? Jangan-jangan, kita adalah salah satu penghambat perluasan Kerajaan Allah. Berdiam dirilah dan temukan cara hidup kita yang rasanya menjadi penghambat Berita Sukacita.—PBS

ACAP KALI, PENGHALANG TERBESAR KESAKSIAN ADALAH CARA HIDUP KITA

BUKAN SAINGAN

(Bacaan : Yohanes 1:35-42)

Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. (Yohanes 1:37)


Ketika Yohanes tampil di padang gurun Yudea dan menyerukan pertobatan yang ditandai dengan baptisan, “datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan” (Mat. 3:5). Mereka menjadi pengikutnya. Kemudian muncullah Yesus dan mengajar di depan umum. Kehadiran mereka yang nyaris bersamaan membuat banyak orang mengira bahwa Yesus adalah saingan bagi Yohanes.

Namun tidak demikian. Yohanes menyebut dirinya sebagai ‘suara’ yang mempersiapkan kedatangan Tuhan (Yoh. 1:23). Ketika orang-orang menduga bahwa ialah sang Mesias, dengan tegas ia menyangkalnya. Ia hanya seorang perintis jalan bagi kedatangan Kristus (Luk. 1:76). Tidak heran, ketika Yohanes melihat Yesus, ia menjelaskan bahwa Dia inilah domba Allah yang menanggung dosa dunia melalui pengorbanan dan kematian-Nya (Yoh. 1:29). Yohanes pun merelakan murid-muridnya meninggalkannya agar mereka mengikut Yesus. Salah satunya adalah Andreas, yang kemudian menjadi rasul Kristus (ay. 40).

Sebagai orang percaya, kita diperintahkan untuk memberitakan karya keselamatan Kristus kepada semua bangsa. Ketika seseorang bertobat melalui pelayanan kita, terkadang ada godaan untuk menjadikan mereka sebagai murid kita. Ini tidak salah. Namun, yang terutama, mereka haruslah menjadi murid Kristus. Jika mereka perlu meninggalkan kita agar dapat mengikut Kristus dengan lebih baik, kita harus merelakannya. Karena kita bukanlah saingan Kristus, melainkan penunjuk jalan agar mereka datang kepada-Nya. —HT

SEBAGAI PENUNJUK JALAN, MESTINYA KITA BERSUKACITA
KETIKA MELIHAT ORANG-ORANG MENEMUKAN KRISTUS

ENAM JENIS LUKA

(Bacaan : Yesaya 53:1-12)

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita. (Yesaya 53:5)



Ada enam jenis luka yang bisa dialami manusia. Luka tergesek, yakni luka sampai kulit terkelupas. Bisa disebabkan karena jatuh terjerembab, atau tergesek oleh permukaan kasar. Luka lebam, yakni luka yang terjadi karena pukulan keras. Luka tersayat, yakni luka yang disebabkan oleh pisau atau benda tajam lain. Luka sobek, adalah luka yang membuat bagian daging terkoyak. Luka tertembus, yakni luka karena daging tertembus suatu benda. Luka tusuk, yakni akibat ditusuk oleh benda runcing atau berduri. 

Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami beberapa di antaranya. Namun percayakah Anda, bahwa Yesus telah mengalami semua jenis luka ini di tubuh-Nya? Bahkan, bukan itu saja. Bukan hanya luka fisik yang harus Yesus tanggung, tetapi juga luka-luka secara rohani karena dosa seluruh umat manusia ditimpakan kepada-Nya (ay. 4,5). Dengan rela, Tuhan menggantikan posisi kita sebagai terhukum yang pantas diperlakukan tanpa kenal ampun—seperti domba yang dibawa ke pembantaian (ay. 7). 

Penderitaan tak tertahankan yang telah dinubuatkan oleh Yesaya ini, tergenapi saat Yesus menjalani sengsara hebat-Nya. Sejak penangkapan hingga wafat-Nya di kayu salib, segala hukuman maut itu ditanggung-Nya bagi seluruh umat yang Dia cintai. Sungguh, setiap jenis luka yang Dia tanggung, mendatangkan kebaikan bagi semua yang menyambut-Nya. Oleh setiap sayatan dan koyakan tubuh Yesus, pengampunan dianugerahkan. Oleh setiap tusukan dan luka tertembus di tubuh Yesus, penebusan dilaksanakan! —AW

OLEH SETIAP LUKA DI TUBUH-MU, YA TUHAN,
SALAH DAN CELAKU ENGKAU TIADAKAN

HASUTAN: ASAL BUKAN YESUS

Bacaan : Matius 27:15-26

Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. (Matius 27:20)

Pilihan orang banyak tidak selalu mewakili kebenaran. Suara terbanyak, mayoritas, teriakan protes atau demo mengatas-namakan rakyat belum tentu menyuarakan kebenaran. Itu bisa diatur oleh pemain yang berada di belakang panggung. Sentimen pribadi, kedengkian, kebencian, dan dendam bisa menjadi kendali yang sebenarnya. Tak soal siapa yang diusung, yang penting hasil yang diinginkan ialah asal bukan si calon yang tak dikehendaki.

Memang mengejutkan manakala orang banyak disuruh memilih antara Yesus dan Barabas—seorang penjahat besar—ternyata pilihan untuk dibebaskan jatuh pada si penjahat. Rupanya memang persoalan bukan pada kualitas Barabas, melainkan ditentukan oleh skenario “Asal Bukan Yesus”. Di balik skenario itu berdiri para pembenci Yesus dengan motif dengki dan modus hasutan mereka yang efektif (ay. 18, 20). Tujuannya satu, membunuh si “Orang Benar itu” (ay. 19). Detik-detik menjelang penyaliban Yesus sejatinya adalah drama kotor pembunuhan kebenaran. 

Skenario pembunuhan kebenaran kita saksikan dalam keseharian hidup. Kita dibuatnya kaget, sedih, berang, geram, bahkan tak jarang kecewa berat. Namun penyaliban Yesus membuktikan, skenario Allah selalu unggul. Penyaliban-Nya justru melayani tujuan-Nya, yakni penyelamatan dunia. Siasat licik tak bakal berjaya terus. Percayalah, tiada yang sanggup membinasakan Sang Kebenaran. —PAD

KEGELAPAN TAK SANGGUP MENGUSIR TERANG
YANG TERJADI ADALAH SEBALIKNYA

Selasa, 10 Oktober 2017

TAK MUNGKIN DI BUNGKAM

(Bacaan : Markus 10:46-52)

Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: ”Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:48)


Dunia ini tak pernah sepi dari teriakan orang-orang yang menderita. Baik yang kita dengar sendiri maupun yang beredar di media baik cetak maupun elektronik. Setiap hari selalu ada kabar bencana, kesakitan, kekerasan, dan tragedi silih berganti. Begitu seringnya terdengar, sehingga patut kita bertanya, “Masihkah ada yang sungguh-sungguh memerhatikan jeritan mereka?”

Perjalanan Yesus menyongsong penderitaan-Nya di Yerusalem menghadirkan jawaban atas pertanyaan di atas. Di tengah kerumunan orang kala itu, terdengar teriakan memelas Bartimeus. Kebanyakan orang terusik dan ingin membungkamnya saja (ay. 48). Namun percuma, teriakannya terus terdengar. Yesus berbeda dari mereka. Kendati Diri-Nya sendiri dibayangi penderitaan, teriakan si buta itu mendapat tempat di hati-Nya. Yesus berhenti, memanggilnya, dan berbuat sesuatu baginya (ay. 49-52). 

Betapa sering kita pun bertindak seolah hendak “membungkam” jeritan kaum sengsara. Entah dengan mengutuki penyebabnya tanpa berbuat sesuatu, dengan menebalkan telinga dalam ketidak-pedulian, atau pun menenggelamkan diri dalam kesibukan. Nihil. Tiada yang berubah. Yesus menawarkan jalan yang berbeda. Memerhatikan dan menolong walau hanya satu dari antara mereka—itu jauh lebih baik dan bermanfaat. Bersediakah kita memilih langkah seperti Dia? —PAD

LEBIH BAIK KITA MENYALAKAN SEBATANG LILIN DARIPADA MENGELUHKAN
DAN MENGUTUKI KEGELAPAN.—Eleanor

MAWAS DIRI

Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum. (Lukas 22:31)



Pepatah favorit saya pada waktu duduk di bangku Sekolah Dasar adalah "sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga." Saya sebut favorit karena selain mengajar saya untuk selalu mawas diri, tupai adalah musuh saya karena kegemarannya makan kelapa di kebun nenek saya. 

Mawas diri tentu saja bukan pelajaran khusus untuk anak sekolah dasar melainkan untuk semua usia. Di dunia ini dipastikan bahwa tidak ada manusia bahkan yang paling suci sekalipun yang kebal terhadap pencobaan. Seperti contoh Alkitab kali ini, Petrus. Ketika Yesus memperingatkan Petrus dengan lembut supaya dia berhati-hati, dia malah semakin percaya diri bahwa dirinya tidak akan jatuh "seperti murid-murid yang lain." Sungguh kalimat yang terlihat "menenangkan Yesus" dari seorang Petrus. Sejujurnya kalimat Petrus ini justru malah menyedihkan hati Kristus karena semangatnya yang mengandalkan kekuatan diri sendiri bukan pada kekuatan Allah. Hasilnya, Petrus benar-benar jatuh (ay. 50, 57, 58, 60). 

Alkitab berulang kali memperingatkan kita mengenai hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan di dalam hidup orang percaya, sekaligus memberikan pedoman bagaimana kita harus membawa diri. Kita diajar untuk lebih berhati-hati pada saat kita merasa kuat dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, sebab justru pada saat-saat seperti inilah kita paling mudah jatuh. Hendaknya kita tidak mengabaikannya! Oleh karena itu, mawas dirilah senantiasa, kenali pola pencobaan dan hadapilah dengan kekuatan Allah. —NW

PERTOLONGAN ALLAH DATANG SEIRING DENGAN DATANGNYA PENCOBAAN
KARENA ALLAH TIDAK AKAN TINGGAL DIAM MELIHAT KEJATUHAN KITA

Selasa, 05 September 2017

GURU SEKALIGUS MURID

Ayub 1:1-22
Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8)

Saat Hani (bukan nama sebenarnya) meninggal dunia setelah dua tahun menderita kanker, banyak sahabat mengomentari sikapnya yang tidak pernah mengeluh. Meskipun tahu kemungkinan sembuhnya kecil, ia tetap bersukacita dan bersemangat. Ia menguatkan suaminya dan kedua anak mereka yang masih kecil. Hani menjadi guru bagi suami dan kedua anaknya, sekaligus murid karena ia belajar dari penyakitnya. 

“Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub?” Itulah pertanyaan Tuhan kepada Iblis. Tuhan sangat menghargai Ayub karena ia saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ay. 8). Tuhan menerima tantangan Iblis dengan mengizinkannya mencobai Ayub (ay. 12). Ayub harus menanggung kesusahan yang parah secara beruntun. Ayub tidak mengerti penyebab penderitaannya, tetapi ia menyatakan kepercayaannya yang teguh kepada Allah, yang berhak mengizinkan kenyamanan, kesulitan, maupun kebaikan di dalam hidupnya. Ia tetap memuji Tuhan meski kondisinya tidak mudah (ay. 21). 

Di dalam penderitaan, penting bagi kita merenungkan keinginan Tuhan, bukan keinginan kita. Jika keinginan kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan Dia mengizinkan kita mengalami kesulitan dan penderitaan hidup, tetaplah percaya bahwa Tuhan selalu merencanakan yang terbaik. Dia tidak mungkin mencelakakan dan membinasakan kita. Jika kita meresponsnya dengan sikap yang positif, kita akan tetap bersukacita dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia. —RTG

PENDERITAAN HIDUP DAPAT MENJADI AJANG PEMBELAJARAN
DAN PERTUMBUHAN KARAKTER