YA'AHOWU !! SYALLOM.. Kata Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) FAOMASI ZOAYA

LABEL

Pencarian

MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Tampilkan postingan dengan label N I A S. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label N I A S. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

Sejarah Singkat BNKP

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Banua_Niha_Keriso_Protestan

Agama Kristen pertama-tama dibawa ke P. Nias oleh misi Katolik dari Prancis, yaitu Missions Etrangers de Paris, namun pekerjaan itu berlangsung singkat saja, dari 1832-1835.

Misi Protestan dimulai pada tahun 1865 oleh penginjil Jerman, E. Ludwig Denninger dari Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) pada tanggal 27 September 1865. Badan misi ini untuk sementara waktu dikeluarkan dari Kalimantan. Pada saat itu penduduk pulau itu memeluk agama leluhur.

Hingga tahun 1900, ketika pemerintah kolonial Belanda masuk, pertumbuhan gereja di sana berlangsung lambat sekali. Baptisan pertama dilakukan pada 1874. Sekitar 15 tahun kemudian (1890), jumlah orang Kristen yang telah dibaptis baru mencapai 706 orang. Jumlah ini bertambah hingga 20.000 orang pada 1915.

Dari 1915-1920 komunitas Kristen di Nias mengalami kebangunan rohani yang besar, sehingga terjadilah pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 1921 sudah 60.000 orang dibaptiskan - pertambahan sejumlah 40.000 orang hanya dalam waktu lima tahun.

Pada tahun 1936 Sinode BNKP yang pertama dibentuk dan hingga tahun 1940 dipimpin oleh seorang misionaris Jerman. Kebangunan rohani berikutnya (1938-1942, 1945-1949) tidak hanya melahirkan pertumbuhan tetapi juga perpecahan gereja (Fa’awösa khö Geheha and Fa’awösa khö Jesu).

Sementara itu di Nias berkembang pula Gereja Advent dan Gereja Katolik Roma. Namun demikian BNKP tetap merupakan Gereja terbesar, yang mencakup 60% dari seluruh penduduk. Oleh karena itu, Gereja ini merupakan faktor yang penting dalam berbagai segi kehidupan masyarakat di pulau itu. Gereja ini boleh dikatakan mempersatukan masyarakat Nias menjadi satu kesatuan etnik dan bahasa. Bahasa Nias utara dijadikan bahasa Alkitab dan Gereja. Alkitab lengkap dalam bahasa Nias diterbitkan pada 1913.

Saat ini, dari sekitar 500.000 penduduk, sekitar 73% beragama Kristen Protestan, 18% Katolik Roma, dan 7% beragama Islam, sementara sisanya memeluk agama leluhur.

(Catatan: Apabila ada data lebih akurat, maka kami sangat mengharapkan untuk di email kepada kami di bnkpbandungtimur@yahoo.co.id)

Perjalanan Injil di Nias dan Kondisi Terkini

Oleh: Pdt. Foluaha Bidaya, S.Th, M.Div*

Dengan mengingatkan kembali sejarah masuknya Injil di Kepulauan Nias, paling tidak akan melahirkan dua respon bagi setiap umat Kristen yang membaca, pertama, rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah Bapa di surga atas kasih, anugerah dan kemurahanNya yang telah menyelamatkan sebagian besar masyarakat Kepulauan Nias menjadi umat tebusan-Nya. Kedua, introspeksi diri dan evaluasi mengenai kehidupan Kekristenan di Kepulauan Nias sebagai hasil dari berita Injil sejak awal hingga pada masa kini.

Masuknya Injil di Kepulauan Nias
Masuknya Injil di Kepulauan Nias tidak terlepas dari titik tolak penginjilan sedunia, yaitu ”Amanat Agung Tuhan Yesus”. Dalam Matius 28:19–20,dikatakan ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.Dalam bahasa Li Niha: ”Mi’ae’e,  mibali’ö nifaha’ö fefu soi, wamayagö idanö ya’ira ba döi Nama ba ba döi Nono ba ba döi Geheha Ni’amoni’ö.”

Pada umumnya, kita harus akui secara jujur bahwa masuknya Injil yang melahirkan gereja-gereja Kristen Protestan di Indonesia berboncengan dengan misi kolonial Belanda (VOC) sekitar abad ke-16.
Demikian halnya di Pulau Nias dan pulau-pulau sekitarnya sebagai salah satu daerah kepulauan di tepi barat Pulau Sumatera yang menyimpan berbagai potensi yang terpendam dan terabaikan selama ratusan tahun sebelum Injil masuk, dapat dicatat bahwa masuknya Injil yang melahirkan gereja-gereja Kristen Protestan di Kepulauan Nias dibawa oleh lembaga misi dari Jerman, yaitu: Rhenische Mission Gesellschaft (RMG) yang saat ini dikenal dengan nama Vereinte Evangelische Mission” (VEM), dalam bahasa Inggris United Evangelical Mission (UEM)  dan badan misi dari Belanda, yaitu: Amsterdamer Lutherische Mission yang keduanya  berbonceng dengan VOC atau paling tidak diberi kemudahan-kemudahan oleh kolonial Belanda saat itu, untuk memberitakan Injil Keselamatan di kepulauan Nias.
Satu nama yang patut dicatat dan tak pernah bisa dilupakan, sebagai orang pertama yang pembawa berita Injil di kepulauan Nias, ia tiba di Gunungsitoli pada tanggal 27 September 1865, yaitu E.L. Denninger. Menurut sejarah bahwa E.L. Denninger awalnya ia diutus oleh badan misi dari Jerman untuk memberitakan Injil di Kalimantan, tetapi karena terjadinya perang suku di Kalimanatan  mengakibatkan terancamnya pula hidup para misionaris, termasuk E.L.Denninger, ia memutuskan untuk pindah ke Padang. Di Padang E.L. Denninger bertemu dengan orang-orang Nias, ia belajar bahasa dan budaya Nias. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke Pulau Nias.
Dapat dicatat bahwa Injil keselamatan yang dibawa oleh E.L. Denninger menghasilkan buah. Masyarakat Nias yang sebelumnya menganut kepercayaan pribumi yang dikenal dengan ”pelebegu”, yaitu penyembahan berhala yang berwujud pada kepercayaan terhadap dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang, secara bertahap mulai percaya pada berita Injil, mereka menerima Yesus Kristus Juru Selamat dan penebus dosa umat manusia (Kisah Para Rasul 4:12), lalu mereka memberi diri dibaptis.
Karena respons positif masyarakat Nias terhadap berita Injil, E.L. Denninger melaporkan hal tersebut di Jerman dan meminta agar RMG mengutus missonaris lainnya untuk membantu ”penuaian” di kepulauan Nias. Beberapa stasiun misi didirikan, misalnya di Telukdalam dimulai tahun 1886 oleh J.W. Thomas, di Pulau Tello dibuka oleh P.J. Kersten dari Belanda tahun 1889, di Hinako dibuka oleh W. Hoffmann tahun 1899, di Sirombu dibuka oleh A. Pilgenroder tahun 1902, di Lawelu dibuka oleh H.Lagemann tahun 1919, di Lahewa dibuka oleh D. Babfeld tahun 1925 dan lain-lain.
Dari semua hasil penginjilan yang dilakukan lahirlah denominasi Gereja BNKP dan dari BNKP lahir pula denominasi yang lain, seperti AFY, ONKP, AMIN, BKPN dan GNKP-Indonesia serta lainnya.
Tidak mudah menerobos kepercayaan lama dan budaya Nias yang begitu ketat dengan strata sosialnya. Namun, karena kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8) dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para misionaris telah mampu membawa Injil ke pintu hati masyarakat Kepulaun Nias sehingga sampai saat ini Kekristenan menduduki posisi sekitar 97 persen.

Senin, 04 Juni 2012

Elemu: Solohe ba Wa’atekiko

Te lö ba gotaluada zi lö irai mamondrongo nifotöi elemu. Dörö na’i so ba gotaluada zo’elemu. Oya niha sata’u ba niha so’elemu, ba oya göi niha solohi-lohi elemu, somasi möi faguru. Hadia zinduhunia nifotöi elemu andrö ? Hana wa lagohi-gohi sibai niha gelemu andrö ? Hewisa göi dandra-tandra ma ila’ila niha so’elemu ? Hezo lasöndra niha gelemu andrö ? Hadia “hareda” na so khöda gelemu ? Hana göi wa abölö sökhi na ta’aröu’ö ita moroi ba gelemu andrö ?


Fefu ganofula andrö ba oi moguna, ena’ö aboto ba dödöda fefu ngawalö nidunö-dunö ma niwa’ö-wa’ö sanandrösa ba gelemu andrö. Na no ta’ila he’iwisa sibai nifotöi elemu andrö, ba awena ta’ila ta’etu’ö ba wa’aurida, hadia tagohi gelemu andrö ba ma zui tafandröndröu ita moroi khönia.

Hadia ia gelemu andrö ?
Elemu andrö ba ya’ia da’ö fa’atuatua, fa’onekhenekhe ma fa’abölö ni’a'asogö zokhö fa’abölö si lö to’ele ba höröda ya’ita niha. Sokhö fa’atuatua ma fa’abölö andrö ba ya’ia da’ö fa’ogömigömi, afökha, samakiko. Samahaö niha ba gelemu andrö asese latötöi ba khöda guru gelemu ma duku.



Ngawalö gelemu
Oya ngawalö gelemu nisao’ö zogömi-gömi andrö, simane:

  1. fama’ele’ö si lö alua na, ba famo’eluaha fangifi,
  2. famadöhö fökhö,
  3. fame’e harazaki sebua,
  4. fokasi (famakitö dödö nono alawe ba nono matua),
  5. fangöna, zago mboto, öba ma fanaha balatu,
  6. fangöndru ba fanaha teu,
  7. fanga’asogö lakhömi,
  8. famökhö, fangowöhö, folangui, famatö niha,
  9. famabali si faronga,
  10. ba tanö bö’ö na.

Baero nisura andrö yawa, oya nasa ngawalö gelemu ni’a'asogö wa’ogömi’gömi andrö.

Hana wa lagohi-gohi niha gelemu andrö ?

Selasa, 08 Mei 2012

Ha wa’eboea danö Nias ?

[Catatan: Tulisan berikut diambil dari Buku E. Fries, Amuata Danö Niha, yang memberikan berbagai informasi tentang Nias: keadaan iklim, geografi, sejarah, kekayaan alam dan sebagainya. Perhatikan ejaan yang dipakai dan beberapa kata Nias yang sudah jarang dipakai saat ini: mafi, giwö, fari.]
 
Ha wa’eboea danö Nias ?
Na tafaigi gambara danö Nias, ba i’anema’ö oroma chöda, he wisa nga’eoenia: no enaoe mbotonia ba no ide’ide mbolo, tobali oroma manö chöda nasi faoma fatambai, na tasösö hili salawa ba daloe danö, he ha 800 M. wa’alawania jawa dete nasi. Bewe nasi ba gatoemboecha ba ba gaechoela loeo, ba aracha faofao i’otarai moroi jöoe iroegi Ziromboe ba zi tambai si tooe, ba iroegi Woa ba zi tambai si jawa: raja da’ö, ba awoewoe mafi ba gaechoela, ba mamoeko danö ba gatoemboecha, tobali aracha faofao zoei sa atö na sa, iroegi doere Zoeani; aefa da’ö, ba aeroe sa’ae mbalö tanö raja.


Famadaya Harimao, Keperkasaan Perang dan Pertobatan

 
Tujuh tahun sekali warga Desa Hilisimaetanö menggelar Famadaya Harimao. Upacara digelar untuk mengenang keperkasaan sekaligus pertobatan atas dosa perang yang telah dilakukan para leluhur.

Liputan6.com, Nias: Suatu pagi, saat embun masih terasa di kulit, warga Desa Hilisimaetanö, Pulau Nias, Sumatra Utara, tampak sibuk. Perhelatan adat Famadaya Harimao akan digelar. Upacara tujuh tahunan itu untuk mengenang keperkasaan masyarakat Hilisimaetanö saat berperang di masa lampau. Warga setempat memang bangga dengan kepandaian leluhur mereka berperang, sehingga perlu dibuat upacara khusus. Namun, seolah penyesalan, upacara juga dilaksanakan untuk pertobatan atas dosa-dosa perang para pendahulunya.

Sebelum perayaan, para tokoh desa seperti Si Ulu [raja] Jupiter Dachi, para Si Ila [panglima perang], dan kepala desa berkumpul untuk bermusyawarah. Mereka berembuk untuk memutuskan pembagian daging babi yang akan disembelih pada puncak upacara. Sejumlah tokoh dipersilakan mengemukakan pendapat. Namun keputusan akhir ada di tangan Si Ila. Sementara Si Ulu yang menjadi pimpinan tertinggi dan kades sebagai pimpinan formal, hanya diam menyaksikan rapat. Sebab, Si Ulu dan kades memang tak dimintai pertimbangan. Kendati demikian, merekalah yang akan memutuskan jika musyawarah gagal mencapai mufakat.

Senin, 30 April 2012

Pentahbisan Gedung Gereja BNKP Jemaat Pekanbaru

Lebih dari 2000 orang warga BNKP se Propinsi Riau, menghadiri acara penahbisan Gedung Gereja BNKP Jemaat Pekanbaru, oleh Pdt. Kalebi Hia MTh. Praeses Resort 44 Pdt. Sudirman Halawa Sth dan seluruh Pendeta dalam lingkungan Resort 44, acara diawali dengan acara penyambutan Ephorus dan undangan secara adat Nias (FANGOWAI ba FAMEE AFO dan MAENA FANGOWAI) kemudian dilanjutkan dengan acara Penahbisan Gedung Gereja, Ibadah dan perayaan, acara berlangsung begitu meriah, sepanjang jalan dihiasi dengan karangan bunga ucapan selamat, dan Baliho besar selamat datang Ephorus, acara ini semakin meriah dengan tampilnya Paduan Suara Cantabile Choir yang merupakan Paduan suara Terbaik di Propinsi Riau, hampir semua tokoh masyarakat Nias yang ada di Provinsi Riau menghadiri acara ini, antara lain Bpk Ama Roki Hia (DPRD Kab Pelalawan), Bpk Ama Viktor Zalukhu (PTPN V) Ama Riska Gea (DPRD Nias Utara) dan tokoh-tokoh masyarakat Nias lainnya, pada kesempatan itu juga Bpk. Ephorus merasa terharu pada saat menerima Sumange Sageu Mbawi Sauri dari Panitia, Ketua Panitia Kompol P.Zalukhu SH. dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada semuanya yang telah mendukung acara ini.

Sumber: http://www.niasisland.com/

Jumat, 20 April 2012

Beberapa Fakta Dari Tulisan-tulisan Pertama Tentang Nias

(Sumber: P. Johannes Maria Härmmerle, OFMCap., “ASAL USUL MASYARAKAT NIAS, Suatu Interpretasi”, Yayasan Pusaka Nias, Gunungsitoli, 1999.)

Fit and proper test pada zaman leluhur orang Nias telah menjadi kebiasaan dan dilaksanakan secara terukur. Lihat saja apa yang harus dijalankan oleh seorang pemuda Nias. Untuk dapat dikatakan dewasa, mereka harus melompat batu, dan untuk dapat kawin mereka harus telah membunuh musuh dan membawa kepalanya. Hal itu dapat dilihat fakta pada tulisan-tulisan pertama tentang Nias.

Berikut disajikan tulisan-tulisan pertama tentang Nias, seperti yang diuraikan oleh Controleur E.E.W.G. Schröder dalam bukunya “Nias Ethnograpische, Geographische En Historische Aanteekeningen En Studien”, Brill, Leiden, 1917, Vol. I, Teks. Boek III – Historie.

----o----

Jumat, 13 April 2012

Kebakaran di SMA BNKP Kota Gunung Sitoli


Segenap Majelis dan Jemaat BNKP Jemaat Persiapan Bandung Timur turut Prihatin yang mendalam atas terjadinya Kebakaran di SMA BNKP Kota Gunung Sitoli pada hari Minggu (8/4/2012) pukul 11.00.  Kiranya Tuhan menolong agar rehabilitasi dapat segera terealisasikan, dan memberikan kekuatan kepada Yayasan, staf pengajar dan segenap siswa. Penyebab kebakaran diduga akibat hubungan pendek arus listrik. Kebaran tersebut telah menghanguskan Sebanyak 10 ruang kelas, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang wakil kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang tata usaha di SMA Swasta BNKP di Jalan Pendidikan, Kelurahan Ilir, Kecamatan Gunungsitoli.

Rabu, 14 September 2011

Budaya Nias di Tengah Perkembangan Zaman



Oleh: Fikar Gea
Budaya merupakan nilai-nilai luhur peninggalan leluhur yang telah bertahan selama berabad-abad menjadi aturan-aturan, norma-norma atau adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat dan generasi berikutnya secara turun-temurun. Tentu saja begitu juga dengan Budaya Nias, bahwa budaya yang dimiliki saat ini merupakan nilai-nilai yang diturunkan oleh nenek moyang, yang telah menjadi falsafah, cara berpikir, tujuan dan cita-cita yang dimiliki, dipilih dan dipelihara. Semuanya itu memang nyata dan telah terukir dalam sejarah. Yang menjadi pertanyaannya ialah seberapa besar relevansi budaya itu terhadap keberadaan zaman sekarang ini?

"Omo Hada", Situs Warisan Budaya yang Terancam Punah

Ref: Harian Kompas, 17 Oktober 2004
Oleh : Edy Suhartono

NIAS merupakan salah satu daerah tingkat II di Provinsi Sumatera Utara yang menyimpan berbagai kekayaan budaya. Mulai dari teknologi seni bangunan rumah adat hingga patung batu dari zaman megalitikum telah memberi makna dan nilai lebih yang cukup berarti bagi masyarakat. Namun sayang, potensi ini tampaknya belum dieksplorasi lebih jauh oleh pemerintah maupun pihak swasta. Sementara itu, hasil penelitian yang selama ini ada pun terkesan sangat artifisial. Bahkan kebanyakan dilakukan peneliti dari luar negeri.

Selasa, 13 September 2011

Pekabaran Injil dan Gereja di Nias dan Pulau-pulau Lain Lepas Pantai Sumatera (1865-sekarang)


(Artikel ini diambil dari: End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta. Halaman 211-217)

Keadaan umum

Yang terbesar dan paling padat pendudukknya di antara pulau-pulau lepas pantai barat Sumatera ialah Pulau Nias (kini sekitar 550.000). Pulau ini, sama seperti kepulauan Batu, pulau Enggano, dan kepulauan Mentawai, baru dijajah orang Belanda sekitar tahun 1900. Sebelumnya, Belanda hanya menguasai daerah di sekeliling Gunung Sitoli. Penduduknya, khususnya di pulau Nias, tidak menjadi pelaut, tetapi hidup dari usaha bercocok-tanam (Nias) atau dari pemberian alam (Mentawai). Maka masyarakatnya bersifat tertutup dan adat serta agama turun-temurun berpengaruh besar. Di semua pulau itu terdapat sejumlah pendatang dari Sumatera Barat yang beragama Islam. Daerah Nias Utara berbeda dari Nias Selatan dalam hal logat bahasa dan adat.

Jumat, 09 September 2011

Budaya Nias di Tengah Perkembangan Zaman



Budaya merupakan nilai-nilai luhur peninggalan leluhur yang telah bertahan selama berabad-abad menjadi aturan-aturan, norma-norma atau adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat dan generasi berikutnya secara turun-temurun. Tentu saja begitu juga dengan Budaya Nias, bahwa budaya yang dimiliki saat ini merupakan nilai-nilai yang diturunkan oleh nenek moyang, yang telah menjadi falsafah, cara berpikir, tujuan dan cita-cita yang dimiliki, dipilih dan dipelihara. Semuanya itu memang nyata dan telah terukir dalam sejarah. Yang menjadi pertanyaannya ialah seberapa besar relevansi budaya itu terhadap keberadaan zaman sekarang ini?

Rabu, 07 September 2011

Struktur Kalimat Bahasa Nias


Para pendatang di Pulau Nias sering mendapat kesulitan ketika mencoba belajar Li Niha. Cara paling umum yang mereka tempuh untuk belajar Li Niha adalah menanyakan arti kata-kata Li Niha satu per satu dan menghafalnya. Lalu berbekalkan kata-kata lepas itu, mereka mulai ‘memperlihatkan’ kemampuannya berbahasa Nias.
Jadi, dengan mengetahui bahwa: saya = ya’odo, engkau = ya’ugö, pergi = möi, ke = ba, sekolah = sekola, tidak = lö / lö’ö, baik = sökhi, kelakuan = amuata, mereka memunculkan sebuah struktur kalimat Li Niha ala anak kecil yang baru belajar berkata-kata, sebagai berikut:
Ya’odo möi ba sekola – (maksudnya: Saya pergi ke sekolah)
Lö sökhi amuata ya’ugö - (maksudnya: Kelakuanmu tidak baik).


Sejarah Pekabaran Injil di Pulau Nias

I.      Pendahuluan


Pekabaran Injil di Nias dimulai dengan satu nama yang seolah-olah terukir indah dengan tinta mas dalam lembaran sejarah gereja di Pulau Nias. Nama itu ialah ERNST LUDWIG DENNINGER, salah seorang lulusan Bassel Missions  Seminarie. Ia diutus oleh RMG (Rheinische Missions Gesselschaft) dan tiba di Pelabuhan Gunung Sitoli Nias pada hari Rabu, tanggal 27 September 1865, jam 09.00 pagi. Hingga sekarang tanggal kedatangannya inilah yang dianggap sebagai permulaan datangnya Berita Injil di Nias, dan selalu diperingati setiap tahun, minimal sekali dalam lima tahun.

Memang ada informasi lain, bahwa Pekabaran Injil di Nias telah dimulai pada tahun 1822/1823 oleh dua orang pastor dari Gereja Roma Katolik, yang diutus oleh Mission Estrangers de Paris yaitu Pastor Pere Wallon dan Pastor Pele Barart, tetapi ternyata pekerjaan mereka tidak berhasil. Setelah mereka tiga hari tinggal di Lasara–Gunung Sitoli, seorang diantaranya meninggal dunia, demikian pula yang lainnya juga meninggal dunia tiga bulan kemudian. Sebab itu Pendeta–Evangelis ERNST LUDWIG DENNINGER–lah yang diakui dan diterima sebagai Rasul Pertama di tengah-tengah Suku Nias.