YA'AHOWU !! SYALLOM.. Kata Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh. 14:6) FAOMASI ZOAYA

LABEL

Pencarian

MARILAH KITA MENJADI BERKAT MELALUI INTERNET, KIRIMKAN TULISAN ANDA YANG MEMBANGKITKAN IMAN, MEMULIHKAN, MEMBAWA JIWA & PERTOBATAN KEPADA TUHAN.

Senin, 09 Juli 2012

Seni Berkunjung Kepada Orang Sakit

Penyakit dapat menyerang siapa pun. Tidak ada orang yang sudah siap menangkal penyakit yang bakal datang menyerangnya. Ada penyakit yang disebabkan virus yang menular, tetapi ada juga penyakit yang timbul karena perbuatan sendiri. Kalau sudah sakit, kita merasa tidak berdaya sama sekali. Kita mengeluh karena tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Hal yang paling merepotkan, kita baru merasakan bahwa kesehatan lebih berharga daripada segala-galanya.
Siapa pun dapat terkena serangan penyakit, baik penyakit yang ringan maupun yang berat tanpa pandang usia. Bayi di kandungan pun mungkin saja menderita sakit; bayi usia tahun pertama pun rentan terhadap penyakit sekali pun memiliki kekebalan tubuh yang diperolehnya dari ibunya. Anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua sekali pun, dapat ditimpa penyakit. Bahkan dokter sekali pun mungkin saja tidak berdaya karena diserang penyakit.
Siapa yang mau mengunjungi anggota jemaat yang jatuh sakit dan terbaring lama di rumah sakit? Apakah pendeta saja? Gembala jemaat saja? Tentu saja jawabnya tidak! Pengertian "tua-tua jemaat" (terjemahan lama) atau "penatua" (terjemahan baru) mengandung makna "penggembalaan". Mereka yang diangkat menjadi tua-tua jemaat, sebagai penatua atau sebagai diaken, memiliki tanggung jawab dan komitmen yang jelas: wajib menggembalakan dan memelihara serta memerhatikan anggota jemaatnya. Jika kaum awam memiliki waktu yang cukup, mereka pun sudah sepantasnya memberi kekuatan rohani kepada sesamanya yang sedang terbaring di rumah sakit.
Komitmen (janji) adalah sesuatu yang harus diwujudkan secara konkret, kalau tidak, jabatan yang dituakan di dalam jemaat itu hanya sekadar harapan dan impian. Lukas dalam Kisah Para Rasul 20:28 berkata, "Hendaklah kalian menjaga diri dan (jagalah juga) seluruh jemaat yang telah diserahkan oleh Roh Allah kepadamu untuk dijaga; sebab kalian sudah diangkat menjadi pengawas jemaat Allah itu seperti gembala menjaga dombanya, karena Allah sudah menjadikan jemaat itu milik-Nya sendiri melalui kematian Anak-Nya sendiri" (BIS; kata-kata dalam tanda kurung ditambahkan penulis).
Rasul Petrus juga menguatkan pandangan yang dikemukakan Lukas dalam Kisah Para Rasul itu. Tugas penatua sebagai mitra pendeta atau gembala jemaat tidaklah ringan, namun dikerjakan dengan sukarela dan penuh pengabdian dan rasa syukur. Penatua yang diangkat itu bertindak sebagai pelayan-pelayan Allah yang sungguh-sungguh melayani. "Supaya kalian menggembalakan kawanan domba yang diserahkan Allah kepadamu. Gembalakanlah mereka dengan senang hati sebagaimana yang diinginkan oleh Allah, dan janganlah dengan berat hati. Janganlah pula melakukan pekerjaanmu guna mendapat keuntungan, melainkan karena kalian sungguh-sungguh ingin melayani" (1Petrus 5:2).
Kalau menurut tradisi masa lalu, diaken berdiri di tepi meja dan melayani orang yang datang ke perjamuan, mereka pun bertugas di luar pelayanan di Bait Allah, mengurus dan memelihara anggota jemaat yang terbaring karena sakit.

Bagaimana Keadaan Orang yang Sakit dan Terbaring di Rumah Sakit?
Psikolog pasien menjelaskan bahwa orang yang sakit amat bergantung kepada orang yang merawatnya. Karena ketidakberdayaan melakukan perawatan diri sendiri, mereka sangat memerlukan pertolongan perawat, dokter, dan orang yang ada di rumah sakit. Khusus mereka yang menderita penyakit yang kronis, mereka ini amat kesal melihat tubuhnya sewaktu-waktu terpaksa berbaring di rumah sakit. Ada kecenderungan rasa iba diri dalam pikiran dan perasaan mereka. Orang yang seperti itu perlu diperhatikan dengan seksama. Mereka sering merasa terpencil dan dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
Ada suasana kejenuhan dalam diri mereka. Bahkan, seorang anak kecil yang masih duduk di SD suatu kali berkata kepada neneknya (waktu terbaring di tempat tidur dan keperluan makan minumnya harus dilayani neneknya), "Nek, maafkan aku ya, telah merepotkan nenek." Sang nenek merasa iba mendengar permintaan maaf dari cucunya yang masih kecil itu. Perasaannya yang halus mengatakan bahwa ia telah merepotkan orang lain. Banyak orang dewasa yang memiliki kepekaan seperti anak kecil ini. Namun demikian, pada hakikatnya mereka amat kesepian dan memerlukan perhatian orang lain.
Orang yang terbaring lama di ranjang rumah sakit umumnya membuat ia merasa seperti kehilangan sesuatu karena ia tidak dapat melakukan tugas dan kewajibannya sehari-hari. Ia tidak dapat membuat rencana yang harus dilakukan.
Kadang-kadang, ia merasa tidak berguna sama sekali -- jika diketahuinya bahwa penyakitnya agak parah dan berat, apalagi orang yang bekerja sebagai pegawai kantor.
Mereka merasa tercabut dari lingkungan, terlalu bergantung kepada perawat yang harus membantunya dan akan mudah tersinggung bila wajah perawatnya cemberut. Tidak mudah bagi pasien menyesuaikan diri dengan keadaan di rumah sakit. Kerabat dekat yang menjaga pun kerap kali menggerutu melihat pelayanan rumah sakit yang tidak sigap untuk memenuhi segala keperluannya.
Pasien berontak terhadap lingkungan karena penyakit yang dideritanya, sementara kerabat dekat yang membantu merawatnya pun turut merasa prihatin atas pelayanan rumah sakit yang dirasakan tidak memuaskan.
Gangguan lain yang menghinggapi mereka ialah sikap pasrah atas apa pun yang terjadi terhadap dirinya, ia sudah siap menerima keadaan yang buruk sekalipun -- suatu sikap putus asa dan rasa percaya diri yang sudah hilang. Mungkin saja terjadi disorientasi yang menimbulkan kegoyahan terhadap keyakinan yang dianutnya selama ini. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengapa penyakit itu justru menimpa dirinya.
Contoh yang lazim dialami pasien yang diberi tahu bahwa ia harus mengalami operasi. Berita operasi ini saja pun sudah membuat ia merasa rapuh. Setiap orang berusaha menghindari pembedahan, betapa pun kecilnya. Selain biayanya yang mahal (dan hal ini pun menekan pikiran pasien), rasa was-was terjadi dalam dirinya, jangan-jangan operasi ini tidak berhasil. Umumnya, orang lari kepada obat tradisional. Hal yang demikian membuatnya merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Belum lagi kalau yang sakit tulang punggung dalam keluarga.

Efek Psikologis Lain Jika Lama Terbaring Sakit.

Liturgi yang Hidup

Tulisan d bawah ini memperkenalkan dan menjelaskan Tata Ibadah Liturgi GKI (Gereja Kristen Indonesia) yang dapat menjadi referensi pelayanan dan membuka wawasan ibadah.

A. Apa Itu Liturgi?
Kata “liturgi” berasal dari kata berbahasa Yunani: leitourgia. Asal katanya adalah laos (artinya rakyat) dan ergon (artinya pekerjaan). Jadi, liturgi adalah pekerjaan publik atau pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat/jemaat secara bersama-sama.
Dalam konteks ibadah Kristen, liturgi adalah kegiatan peribadahan di mana seluruh anggota jemaat terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan nama Tuhan.
Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa “liturgi” adalah “ibadah.” Setiap ibadah Kristen (apapun denominasinya) harus bersifat liturgis; artinya melibatkan setiap orang yang hadir di dalamnya. Ibadah di mana jemaat hanya menjadi penonton yang pasif bukanlah ibadah dalam arti yang sesungguhnya.
Oleh karena semua anggota jemaat harus terlibat secara aktif, maka perlu ditentukan kapan giliran mereka berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk partisipasi itu (apakah menyanyi, berdoa, memberi persembahan, dll). Dari sini muncullah apa yang disebut dengan tata ibadah, yang mengatur kapan giliran setiap orang berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk partisipasinya. Tata ibadah inilah yang sering kita sebut liturgi dalam arti sempit.
Banyak orang memiliki konsep yang keliru tentang ibadah. Kita cenderung memandang ibadah (kebaktian) seperti pertunjukan teater. Yang menjadi aktor adalah pendeta dan pelayan ibadah lainnya. Penontonnya adalah anggota jemaat yang hadir, sedangkan sutradaranya adalah Tuhan. Konsep ini keliru karena memandang jemaat hanya sebagai penonton! Soren Kierkegaard, seorang teolog Eropa abad ke-19, mengatakan bahwa dalam ibadah Kristen, aktornya adalah jemaat.
Sutradaranya adalah para pemimpin ibadah (pendeta, liturgos, pemusik), sedangkan penontonnya adalah Tuhan! Tata ibadah (“liturgi”) adalah skenario drama yang harus dimainkan oleh anggota jemaat sebagai para pemeran.

B. Apa yang Dimaksud dengan Liturgi yang Hidup?
Secara fenomenologis, sekelompok orang dikatakan “sedang beribadah” ketika mereka berkumpul pada waktu dan tempat tertentu, lalu melakukan ritual religius menurut tata cara yang telah disepakati bersama dengan tujuan bersekutu dengan Tuhan. Ritual tersebut dilakukan berulang-ulang setiap kali bertemu, sehingga menjadi tradisi dari kelompok tersebut.
Sebuah ibadah atau liturgi dikatakan “hidup” jika ibadah itu dapat mencapai tujuannya(1) . Apakah tujuan kita beribadah?
Menurut John Calvin, tujuan ibadah Kristen adalah penyatuan dengan Allah (union with God). Lewat ibadah, jemaat menjadi ‘sehati sepikir’ dengan Allah. Jemaat menjadi sadar apakah kehendak Allah bagi mereka.
Menurut dokumen konsili Vatican II, hasil dari ibadah ada dua: Pemuliaan Tuhan (glorification) dan pengudusan orang percaya (sanctification)(2) . Jadi, liturgi yang hidup adalah ibadah di mana seseorang bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam ibadah bersama (public worship) dan perjumpaan itu mentransformasi hidup mereka yang hadir. Dalam istilah umum, liturgi yang hidup adalah ibadah di mana di dalamnya orang bisa “merasakan Tuhan hadir dan menyapa mereka.”
Pada dasarnya Tuhan hadir di segala saat dan tempat, tidak terbatas hanya di gedung gereja saat Kebaktian Minggu. Namun demikian, tidak dapat disangkali bahwa kerapkali orang lebih bisa merasakan kehadiran Allah dalam ibadah, karena pada saat itu ia benar-benar memfokuskan dirinya kepada Tuhan. Hal ini dapat diumpamakan seperti selembar kertas yang tergeletak di sebuah lapangan pada siang hari yang panas. Cahaya matahari bersinar di segala sudut, namun tidak dapat membakar kertas itu. Hanya jika ada orang yang membawa kaca pembesar lalu memfokuskan cahaya matahari ke atas kertas itu, maka kertas dapat terbakar. Begitu pula dalam ibadah. Jemaat dapat lebih merasakan kehadiran Tuhan yang mentransformasi hidup jika liturgi dapat menolong mereka memfokuskan diri (membuka hati) kepada Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya.
Dalam gereja Reformasi (seperti GKI), liturgi yang kita pakai berbentuk dialog. Hal ini sesuai dengan ajaran Martin Luther yang menjelaskan bahwa dalam ibadah, mula-mula Allah yang berinisiatif untuk berbicara kepada jemaat lewat Firman-Nya (revelation), lalu jemaat memberi respons dalam bentuk doa dan pujian(3). Jadi, liturgi kita berisi dialog antara Tuhan dan jemaat. Liturgi ini bisa dibilang “hidup” jika melaluinya terjadi dialog yang segar antara Tuhan dengan jemaat. Sebelum kita membicarakan lebih jauh seperti apakah liturgi yang hidup itu, kita perlu mengetahui lebih dulu pola dasar liturgi kita. Perlu kita perhatikan bagaimana pola komunikasi yang terjadi di dalam liturgi minggu kita.

C. Mengenal Pola Ibadah Gereja Reformasi

Puisi: SELALU BERSAMAKU

Karya: Ardelia Hasty Willingli Gea  (HASTI  GEA)
Sekolah Minggu "KASIH" BNKP Bandung Timur
Bandung, 6 Juli 2012

Disaat ku sedih, Kau ada...
Disaat ku gundah, Kau ada... 
Disaat ku resah, Kau ada... 
Disaat ku gelisah, Kau ada...
Disaat ku bahagia, Kau pun ada...
KAUlah Tuhan yang selalu ada saat ku butuhkan...

Tuhan yang Maha Tahu...
Tuhan yang Maha Adil...
Tuhan yang Maha Kuasa...
Tiada yang mustahil bagiMU
DIA akan selalu bersamaku... dimanapun ku berada

KAUlah Juruslamatku..
KAUlah penebus dosaku..
KAUlah yang memimpin hidupku..
KAUlah jalan kebenaran..
KAUlah yang selalu ada di dalam hatiku.. 
Dan KAU Tuhan yang tak pernah meninggalkanku

Sabtu, 07 Juli 2012

Apa Kata Alkitab tentang "YESUS KRISTUS"?


Siapakah Yesus Kristus? Berbeda dengan pertanyaan, “Apakah ada Allah?” jarang orang mempertanyakan apakah Yesus Kristus ada. Pada umumnya Yesus dipandang sebagai seseorang yang hidup di bumi di Israel 2000 tahun yang lampau. Perdebatan baru dimulai ketika topik mengenai identitas Yesus didiskusikan. Hampir setiap agama besar mengajarkan bahwa Yesus adalah seorang nabi, atau guru yang baik atau seorang manusia yang saleh. Masalahnya Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus lebih dari sekedar seorang nabi, guru yang baik atau orang yang saleh.

C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity menulis: “Saya berusaha mencegah orang dari mengatakan hal-hal yang bodoh yang biasanya orang katakan mengenai Dia [Yesus Kristus]: “Saya siap untuk menerima Dia sebagai seorang pengajar moral yang agung, tapi saya tidak menerima klaim bahwa Dia adalah Allah.” Ini adalah sesuatu yang kita tidak boleh katakan. Seorang manusia biasa dan mengucapkan apa yang dikatakan oleh Yesus tidak mungkin merupakan seorang pengajar moral yang agung. Kalau orang itu bukan orang gila – yang setara dengan orang yang mengatakan bahwa dia adalah telur rebus – atau dia adalah si Iblis dari neraka. Engkau harus menentukan pilihanmu. Apakah orang ini adalah Anak Allah, atau orang gila atau lebih parah…. Engkau bisa menutup telinga dan menganggap Dia orang bodoh, engkau bisa meludahi Dia dan membunuh Dia sebagai iblis, atau engkau bisa tersungkur di kakiNya dan menyebut Dia Tuhan dan Allah. Tapi jangan mencari alasan yang tidak-tidak dengan mengatakan bahwa Dia hanyalah seorang pengajar yang agung. Dia tidak memberikan opsi itu kepada kita. Dia tidak bermaksud untuk melakukan itu.

Lirik: Bapa yang Kekal

Kasih yang sempurna
Telah kut’rima dariMu

Bukan kar’na kebaikanku

Hanya oleh kasih karuniaMu

Kau pulihkan aku, layakkanku

Tuk dapat memanggilMu, Bapa


Reff:

Kau b’ri yang kupinta

Saat kumencari kumendapatkan

Kuketuk pintuMu dan Kau bukakan

S’bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal


Tak kan Kau biarkan

Aku melangkah hanya sendirian

Kau selalu ada bagiku

S’bab Kau bapaku

Bapa yang kekal.

Lirik: Betapa Hatiku

Betapa hatiku
Berterima kasih Yesus

Kau mengasihiku

Kau memilikiku


Hanya ini Tuhan persembahanku

Segenap hidupku jiwa dan ragaku

S’bab tak kumiliki harta kekayaan

Yang cukup berarti

Tuk ku persembahkan


Hanya ini Tuhan permohonanku

Terimalah Tuhan persembahanku

Pakailah hidupku sebagai alatMu

Seumur hidupku.

Kamis, 05 Juli 2012

Puisi: BERANI MATI SEBELUM MATI


Aku adalah bangsawan Surgawi..
Untuk apa aku membangun kerajaanku dan bukan kerajaan Sorga?
Oh..dunia sedang mempesonaku, menarikku…
Tetapi dunia ini akan hilang lenyap…..
Aku tak mau…jika keinginanku menjauhkanku dari-Mu..
Hancurkan keinginanku, karena ini semua milik-Mu..
Matikan aku..walau masih banyak yang kuingini..
Demi kehendak-Mu dan panggilan-Mu..
Lebih baik aku hidup sebagai alat-Mu..
Buat aku tidak mencintai lagi dunia ini..
Buat mataku hanya menatap wajah-Mu..
Sekali lagi dan sekali lagi..Kau cukup bagiku..
Yesus cukup bagiku, hingga aku akan selalu bersukacita..
Ambil diriku hanya untuk-Mu saja..
Mengabdikan nafasku untuk kemasyuran nama-Mu di bumi..
Aku tak mau menginginkan apapun..
Aku tak berani menginginkan kesenangan dunia…
Memang berat melepas semua kesenangan dan keinginanku..
Tetapi ajarku tuk percaya..
Kau sanggup..Kau baik..Kau sempurna..Kau terindah..
Kau memberi yang terbaik sebab Kau yang paling mengenal hatiku…
Terima kasih Tuanku..
Hari ini Kau telah membuka mata hatiku..
Belajarlah hai, jiwaku..merendahlah..serahkan hatimu…
Seperti Yesuspun telah menyerahkan hak-Nya sebagai Tuhan..
Aku ingin hidup bebas, terbang..lepas…
Tidak memegang apapun di bumi ini..
Akan kupikul salibku itu..sampai kebangkitanku tiba..
Kebangunan..kemuliaan…
Mulutku membisu…lidahku kelu…
Tetapi hatiku tahu…Hatiku menangkap sesuatu dari-Mu..
Jiwaku haus akan-Mu…berilah aku makan dari rumah-Mu
Agar aku kuat kembali…

Sumber: http://eviemehita.blogspot.com